vintagehome

vintagehome

Jumat, 24 Mei 2013

Produk Berbasis Minyak Atsiri

Laporan Praktikum 
Teknologi Minyak Atsiri, Rempah Dan Fitofarmaka 

Dosen : Dr. Dwi Setyaningsih, MSi. STP
Asisten : 1. Siti Saibah F34090105
2. Laras Wahyu S F34090149

Hari/tanggal : Kamis, 18 -25 April 2013


APLIKASI PRODUK BERBASIS MINYAK ATSIRI
(SABUN TRANSPARAN, PARFUM, LILIN AROMATHERAPY, MASSAGE OIL, DAN BALSEM)

Oleh Kelompok 5
Fitriana Dewie P F34100081
Nurul Latifah F34100082
Suci Enggar F34100091
Sapto Pujo F34090102
Hafizah Khaerina F34100110 



DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013

___________________________________________________

I. PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang

Minyak atsiri merupakan suatu minyak yang mudah menguap (volatile oil) biasanya terdiri dari senyawa organik yang bergugus alkohol, aldehid, keton dan berantai pendek. Terdapat berbagai sumber minyak atsiri di alam baik berasal dari tanaman maupun hewan. Dari tanaman pun bisa berasal dari bagian akar, batang, daun, bunga, ataupun biji. Masing-masing sumber minyak atsiri tersebut memiliki karakter yang khas.

Minyak atsiri sangat beragam aplikasinya, mulai dari pembuatan produk aromatherapy, pembuatan obat, kosmetik, pembuatan produk antimikroba serta produk antioksidan, dan lain sebagainya. Dalam hal ini akan dilakukan aplikasi minyak atsiri yakni pembuatan produk aromatherapy, diantaranya massage oil, lilin aromaterapi, parfum tradisonal, sabun transparan, dan balsem. Penggunaan minyak atsiri dalam pembuatan produk aromatherapy memiliki sifat yang sangat mendukung, yaitu dapat bermanfaat bagi tubuh. Manfaat minyak atsiri sebagai produk aromatherapy yaitu dapat meregangkan otot-otot yang lelah, menenangkan pikiran, mengharumkan tubuh, memberikan rasa nyaman, serta menyehatkan kulit.

Pada umumnya produk aromaterapi yang dihasilkan dari aplikasi minyak atsiri ini memiliki fungsi masing-masing yaitu, parfum adalah bagian yang tak terpisahkan dengan gaya hidup masing-masing orang, bahkan tak sedikit orang yang merasa tak percaya diri lantaran tidak memakai parfum, sehingga aroma parfum dari seseorang memang identik dengan kepribadiannya. Parfum memiliki wujud yang bermacam-macam, yaitu cair, gas, dan gel. Parfum yang berwujud cair dibuat dari campuran minyak atsiri yang terdiri dari biang parfum, minyak fiksatifnya dan alkohol. Sabun berfungsi untuk mengemulsi kotoran-kotoran berupa minyak ataupun zat pengotor yang biasanya berbentuk padatan dan cair yang berguna untuk pembersih. Lilin aromaterapi adalah salah satu bentuk produk aromaterapi yang merupakan diversifikasi dari produk lilin yang dapat memunculkan aroma saat dibakar sehingga akan memberikan rasa tenang, rileks, dan nyaman.

Massage oil merupakan produk minyak yang digunakan dalam proses pemijatan yang tujuannya untuk mempermudah proses pemijatan dan dapat memperlancar aliran darah, sehingga dapat memberikan kesan relaks bagi pengguna. Balsem merupakan produk farmasi berupa berupa resin semi padat yang memiliki cara pemakaian mirip dengan massage oil, yaitu dengan pengolesan pada kulit yang umumnya mengandung menthol dan peppermint yang berfungsi untuk menghangatkan bila dioleskan pada kulit dan juga untuk meredakan rasa sakit. Sabun, massage oil dan balsem termasuk produk antimikroba dan antioksidan dimana produk yang dihasilkan adalah produk personal hygiene.

Pada praktikum kali ini, praktikan dikehendaki untuk membuat produk arometherapy dari minyak atsiri yaitu massage oil, lilin aromaterapi, parfum tradisonal, sabun transparan, dan balsem. Hal ini dimaksudkan agar praktikan memahami berbagai aplikasi minyak atsiri, dapat mengidentifikasikan produk yang dihasilkan, serta dapat menerapkannya dikehidupan sehari-hari untuk memperoleh nilai tambah dari komoditi minyak atsiri sebagai mahasiswa yang berbasis agroindustri.


1.2. Tujuan

Praktikum kali ini yaitu untuk mengetahui cara pembuatan produk berbasis minyak atsiri, penggunaan dan kandungan masing-masing produk, hasil pembuatan produk, serta hasil analisis uji dari produk masing-masing.

____________________________________________________

II. METODOLOGI


2.1. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum pembuatan produk berbasis minyak atsiri adalah gelas ukur, gelas piala, labu erlenmeyer, pipet tetes, pemanas, sudip (pengaduk), neraca, gelas bekker, tabung reaksi dan cetakan (untuk sabun dan lilin). Bahan yang digunakan untuk pembuatan parfum tradisional bahannya yaitu biang parfum, etanol 96% p.a, dan senyawa fiksatif (minyak nilam). Bahan pembuatan sabun tradisional yaitu minyak pembawa (minyak kelapa, NaOH, asam stearat, asam sitrat, gliserin, Coco Dietanolamida (Coco-DEA), etanol, NaCl, gula pasir, minyak atsiri (minyak mawar, sedap malam, lemon), dan pewarna. Bahan yang digunakan untuk pembuatan massage oil adalah berbagai macam minyak pembawa (minyak VCO, minyak jarak, minyak kelapa), dan minyak atsiri yang tersedia. Untuk pembuatan lilin aromaterapi bahan yang digunakan stearin, parafin, bubuk pewarna waxoline red, benang katun untuk sumbu, minyak pengikat (minyak nilam), dan minyak atsiri yang tersedia. Bahan untuk pembuatan balsem yaitu vaselin putih, parafin padat, menthol kristal, minyak peppermint, dan minyak atsiri yang tersedia.



2.2. Metode

2.2.1 Parfum Tradisional
2.2.2 Sabun Transparan


Analisa Mutu Parfum
- Uji Spreadibilitas
- Uji Spot
- Uji Lekat
- Uji Daya Tahan Wangi
- Uji Intensitas Bau

Keterangan
1: amat sangat intensif
2 : sangat intensif
3 : intensif
4: sedikit
5 : sangat sedikit

2.2.3 Lilin Aromaterapi
2.2.4 Massage oil
2.2.5 Balsem

___________________________________________________

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1. Hasil

(Terlampir)


3.2. Pembahasan

Pada praktikum kali ini, praktikan mencoba membuat produk berbasis minyak atsiri. Produk tersebut antara lain adalah parfum, sabun, lilin aromaterapi, massage oil, dan balsem. 

3.2.1 Parfum
Parfum merupakan wewangian yang dihasilkan dari campuran antara senyawa aromatik dengan minyak essensial serta bahan pelarut seperti air atau alkohol yang menghasilkan bau untuk digunakan pada tubuh manusia, ruangan atau objek tertentu. Senyawa essensial yang digunakan sebagai pewangi dalam parfum dapat berasal dari minyak atsiri maupun dari senyawa sintetik yang dapat memberikan aroma tertentu.

Parfum telah dikenal sejak lama. Parfum pertama kali digunakan oleh bangsa mesir kuno sebagai sarana untuk pemujaan terhadap dewa. Wewangian modern dimulai pada akhir abad 19 dengan sintesis komersial senyawa aroma seperti vanili atau kumarin, yang memungkinkan untuk membuat parfum dengan bau yang sebelumnya belum dikenal dengan hanya menggunakan bahan senyawa aromatik alami (Anton et al. 2008). Jenis parfum ada bermacam-macam, yakni:
- Soie de parfum adalah jenis yang tidak biasa beredar di pasaran komersial, sama seperti pure perfume, dengan konsentrasi 15%-18% minyak parfum, dapat bertahan kurang lebih 3-6 jam jika digunakan.
- Eau de parfum adalah jenis yang sedikit umum di pasaran dengan konsentrasi minyak antara 8%-15% dan bertahan kurang lebih 3-5 jam jika dipakai. Harganya sedikit lebih mahal dari pada concentrated fragrance, tergantung dari merk dan jenisnya
- Eau de toilette adalah jenis yang sangat umum di pasaran industri wewangian. Konsentrasi minyak parfum yang dikandung kurang lebih antara 4%-10% dan bertahan antara 3-4 jam jika digunakan. Jenis ini biasanya jenis terkuat yang disediakan untuk parfum pria.
- Eau de cologne adalah jenis dengan konsentrasi minyak 2%-5% dan dapat bertahan sampai dengan 3 jam. Jenis ini dulu sempat sangat populer tapi saat ini sudah tidak sebanyak dulu, umumnya untuk jenis parfum wanita, masih sedikit umum dijumpai untuk perfume pria.
- After shave adalah jenis dengan campuran dengan konsentrasi minyak 3% atau kurang, dan dapat bertahan kurang lebih 2-3 jam dan cukup umum dijumpai. Biasanya pada after shave mengandung balm atau aloe (lidah buaya) yang digunakan untuk menenangkan pori-pori setelah bercukur bagi para pria, dan kandungan alkoholnya juga berfungsi untuk menutup kembali pori-pori.
- Eau fraiche adalah jenis dengan campuran kurang dari 3% dan bertahan hanya sekitar 1 jam saja. Biasa pula disebut dengan nama perfume mist atau splash.

Secara umum parfum terdiri dari tiga komponen yaitu zat pewangi, zat pengikat, dan bahan pelarut atau pengencer. Zat pewangi merupakan persenyawaan kimia yang mampu menghasilkan bau wangi yang dapat berupa minyak atsiri ataupun senyawa sintetis. Zat pengikat merupakan persenyawaan yang memiliki daya menguap lebih rendah dari zat pewangi dan berfungsi menghambat atau mengurangi kecepatan penguapan zat pewangi. Zat pengikat yang baik digunakan harus memiliki titik uap yang lebih tinggi dari zat pewangi. Adapun syarat dari zat pengikat adalah sebagai berikut : larut sempurna dalam etanol, minyak atsiri, dan persenyawaan aromatik berwujud cair, mengurangi daya serap parfum dan mampu menghasilkan campuran bau parfum yang harmonis, dan berada dalam keadaan murni sehingga efektif jika digunakan dalam jumlah kecil. Komponen terakhir dari parfum adalah bahan pelarut atau pengencer. Bahan pengencer berfungsi untuk menurunkan konsentrasi zat pewangi dalam parfum sampai pada konsentrasi tertentu, sehingga dihasilkan parfum dengan intensitas bau wangi yang dikehendaki.

Menurut Anonim (2011), aroma favorit memiliki hubungan dengan karakter seseorang. Meski tidak pernah ada penjelasan secara konkrit, tetapi pada umumnya aroma parfum seseorang memang identik dengan kepribadiannya. Tak heran jika saat ini banyak orang yang merasa parfum adalah bagian yang tak terpisahkan dengan gaya hidupnya. Bahkan, tak sedikit orang yang merasa tak percaya diri lantaran tidak memakai benda ini. Terdapat delapan komposisi utama wewangian yang menjadi faktor penentu produk parfum, yakni floral, woody, citrus, ambers, chypre, fresh fruit, dan fourgere.
· Floral
Aromanya berasal dari bunga-bungaan seperti mawar, anggrek, dan melati. Cocok untuk seseorang yang berkepribadian feminim dan romantis.
· Woody
Wanginya didominasi aroma kayu khas dari Kepulauan Pasifik Selatan, ciri khasnya adalah aroma sandalwood dan cedar. Cocok bagi seseorang yang suka berpetualang, independen serta menyukai tantangan.
· Citrus
Karakteristik utama citrus yang berasal dari lemon, tangerine, clementine, dan grapefruit adalah aromanya yang menyegarkan dan langsung tercium begitu disemprotkan. Biasanya digunakan untuk eau de teoilette dan mengesankan pribadi yang aktif, sportif, lively, serta ekstrovert yang sangat sesuai bila digunakan saat berolahraga.
· Ambers
Ambers merupakan campuran vanilla, bunga-bungaan, wood, dan minyak camphorous. Perpaduannya mampu membawa pikiran maupun mood seseorang ke suasana oriental yang eksotis, terutama bagi mereka yang berjiwa romantis, namun tetap terkesan misterius dan maskulin.
· Chypre
Berasal dari gabungan ekstrak bargamot, oakmoss, dan labdanum. Karakteristik wewangiannya ditandai oleh aroma khas apricot dan custard, sedangkan dalam bahasa Perancis disebut cyprus. Parfum ini cocok bagi seseorang yang berhati lembut dan romantis, serta bernuansa dingin atau malam hari.
· Fresh Fruits
Merupakan perpaduan aroma tumbuhan dan buah-buahan menyegarkan seperti citrus, orange, limes, dan grapefruit, sangat tepat bagi mereka yang berjiwa dinamis, aktif, dan suka beraktifitas di luar ruang.
· Fourgere
Campuran dasarnya berasal dari lavender, coumarin, dan oakmoss. Aroma ini juga ditandai dengan perpaduan wangi rempah dan wood, serta membutuhkan waktu beradaptasi dengan kondisi tubuh. Meski terkesan lembut dan menenangkan pikiran, aromanya juga menampilkan sisi ambisius, classy, dan sedikit konvensional.

Semua jenis parfum tersebut mengandung alkohol. Semakin tinggi konsentrat parfum semakin sedikit kadar alkoholnya. Karena sifat alkohol yang menguap, fungsi alkohol disini untuk membantu menyebarkan aroma parfum agar tercium oleh orang-orang di sekitar. Selain itu alkohol juga berfungsi sebagai pelarut untuk melarutkan pure parfum. Hal ini dikarenakan karena jika parfum murni digunakan tanpa diencerkan dapat mengakibatkan iritasai pada kulit (William et al. 1992). Kadar konsentrat mempengaruhi ketahanan dari bau parfum. Parfum dalam kehidupan manusia memiliki berbagai fungsi antara lain adalah memberikan kesenangan hidup, mempengaruhi kejiwaan dan syaraf, memberikan wewangian kepada bahan yang tidak wangi dan menghilangkan bau yang tidak enak pada berbagai macam hasil industri tekstil, kulit, kertas, karet, dan plastik, melindungi manusia dari penyakit yang disebabkan bakteri, menetralisir keracunan makanan karena bakteri tertentu, mengobati sakit kepala, dan lain- lain.

Parfum dapat dibuat dengan cara yang sederhana yaitu dengan menformulasikan tiga komponen parfum. Pada praktikum ini parfum dibuat dengan cara mencampurkan bahan parfum (biang parfum) sebanyak 5 ml dengan bahan fiksatif dan etanol. Biang parfum dibuat dengan cara mencampurkan berbagai jenis biang parfum hingga terbentuk volume sebanyak 5 ml. dalam pembuatan parfum ini fiksatif yang digunakan adalah minyak nilam. Fungsi dari minyak nilam itu sendiri adalah mengikat biang parfum, sehingga parfum akan dapat bertahan lama jika digunakan.

Parfum dapat dibuat baik dengan menggunakan senyawa alami maupun dengan menggunakan senyawa sintetik. Perbedaan material natural dan sintetik terlihat dari efek yang dihasilkan. Pada prinsipnya nature identical adalah membuat senyawa sintetik berdasarkan senyawa yang terdapat di alam. Senyawa tersebut secara alami sudah tersedia di alam. Sebagai contoh adalah pembuatan parfum dengan menggunakan minyak dari melati. Minyak ini telah tersedia secara alami dialam, dan hanya perlu melakukan ekstraksi untuk mendapatkannya. Sedangkan pada senyawa sintetik, senyawa ini tidak tersedia dialam. Senyawa sintetik dihasilkan dengan cara proses kimia. Parfum sintetis atau semi sintesis merupakan parfum yang hanya terdiri dari satu macam zat pewangi.

Pada praktikum dilakukan beberapa uji terhadap parfum yang dihasilkan. Uji organoleptik yang dilakukan ditujukan untuk menguji keharuman aroma, ketajaman aroma, dan tingkat kesukaan terhadap aroma yang dihasilkan. Uji organoleptik ini menggunakan responden tak terlatih, dengan bahan uji tanpa pembanding. Menurut Resurreccion (1998), minimal diperlukan 25 panelis untuk uji afektif di laboratorium yang bertujuan untuk meminimalisasi standar deviasi. Uji afektif merupakan jenis uji untuk mengetahui penerimaan (acceptance) dan atau kesukaan (preference) terhadap suatu produk tertentu. Uji hedonik termasuk ke dalam kategori uji afektif atau uji kesukaan. Masing-masing panelis diminta mencium sampel produk dan memberikan penilaian kesukaan wangi masing-masing sampel produk. Pada uji ini, panelis memberikan penilaian terhadap wangi dengan menggunakan kepekaan alat inderanya (hidung). Tingkat skala hedonik yang digunakan adalah 1: sangat tidak suka, 2: tidak suka, 3: netral, 4 : suka, 5 : sangat suka. Sebanyak 28 orang responden dari praktikkan golongan P3 mengisi angket yang berisi pendapat dan didapatkan rata- rata tingkat kesukaan parfum masing- masing kelompok sebagai berikut: 3.32, 3.07, 3.32, 2.89, 3.54, dan 3.18. Dapat disimpulkan untuk sampel parfum dari kelompok 5 memiliki tingkat kesukaan yang paling tinggi sedangkan parfum dari kelompok 4 memiliki tingkat kesukaan yang paling rendah. Setelah dilakukan analisa sidik ragam untuk mengetahui nyata tidaknya perbedaan antar perlakuan dengan menggunakan uji duncan, nilai Fhitung (1.34) selalu lebih kecil dari pada Ftabel 1% (3.78) dan Ftabel 5% (2.57). Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan nyata antar perlakuan. Tingkat kesukaan dipengaruhi oleh kandungan atau formula dari setiap parfum yang diuji. Pada kelompok 5 formulasi yang digunakan yaitu terdiri dari 0.8 minyak lemon, 0.1 ml minyak sedap malam, 0.3 minyak mawar dan menggunakan fiksatif minyak nilam 0.5 gram serta alkohol sebanyak 8.8 gram. Bau yang ditimbulkan dari parfum ini adalah dominan lemon. Sementara itu formulasi yang digunakan dari kelompok 4 dimana tingkat kesukaannya paling rendah yaitu hanya menggunakan dua jenis pewangi yaitu minyak mawar dan minyak lemon dengan jumlah masing masing 0.4 ml. Kelompok ini menggunakan fiksatif 0.5 gram tanpa menggunakan pewangi minyak sedap malam dan menggunakan pengencer sebanyak 9.2 ml.

Uji yang kedua yang dilakukan dalam praktikum ini adalah uji kualitas parfum. Uji ini terdiri dari uji spreadibilitas, uji spot, uji lekat, uji daya tahan wangi, serta uji intensitas bau. Uji kualitas parfum yang dilakukan pertama kali adalah uji spreadibilitas. Uji ini dilakukan dengan mengamati tetesan parfum pada kertas saring yang meliputi diameter, bau dan warna. Berdasarkan data hasil praktikum diketahui bahwa sebaran parfum terluas adalah dari kelompok 4 dengan diameter adalah 2.4 cm. Sedangkan untuk kelompok lain yakni kelompok 1 dengan diameter 1.6 cm kelompok 2 dan 3 dengan diameter 2 cm serta kelompok 5 dengan diameter sama dengan kelompok 1 dan kelompok 6 menghasilkan diameter 1.8 cm. Besarnya luasan sebaran parfum dipengaruhi oleh formulasi dari campuran parfum. Untuk parameter aroma rata-rata aroma yang dihasilkan adalah sesuai dengan komposisi dominan dari pewangi yang digunakan. Aroma yang dihasilkan yakni berturut-turut dari kelompok 1-6 adalah sedap malam, segar, campuran sedap malam dan lemon, dominan lemon, lemon, serta bau mawar. Sementara untuk parameter warna, rata-rata warna yang terbentuk adalah kuning. Hal ini sesuai dengan warna dari biang pewangi yang digunakan.

Uji yang berikutnya yaitu uji spot. Uji ini dilakukan dengan cara sama seperti uji spredibilitas. Perbedaannya adalah pada uji spot sampel yang telah diteteskan pada kertas saring dijemur dibawah sinar matahari selama 10 menit. Tujuan dilakukannya uji ini adalah untuk mengetahui sebaran dan juga ketahanan aroma. Berdasarkan hasil praktikum luasan diameter yang dihasilkan dari uji spot yakni berturut-turut dari kelompok 1-6 adalah 1.7 cm, 1.8 cm, 1.8 cm, 1.6 cm, 1.8 cm, dan 1.4 cm. Rata –rata hasil uji spot menunjukan diameter yang semakin menurun. Hal ini disebabkan adanya pengaruh penguapan akibat sinar matahari. Berdasarkan hasil uji spot dapat diketahui bahwa parfum dengan kandungan minyak bunga mawar terbesar memiliki daya sebar paling kecil. Selain itu, parameter bau dan warna juga menunjukan adanya trend yang semakin menurun. Penjemuran pada uji spot berfungsi untuk melihat sifat fisik minyak atsiri yang tertinggal setelah proses pengeringan, karena pada beberapa minyak atsiri setelah beberapa saat menempel pada permukaan maka akan tertinggal residu warna komponen penyusunnya, sehingga dengan uji tersebut kita dapat mengetahui jenis minyak atsiri yang dapat digunakan sebagai jenis parfum yang ingin dibuat dan menentukan jenis minyak yang wanginya dapat bertahan lama.

Uji kualitas parfum yang selanjutnya dilakukan adalah uji lekat. Uji lekat merupakan lanjutan dari uji spot. Uji ini dilakukan dengan prosedur yang sama seperti uji spot, tetapi pada uji ini dilakukan proses pencelupan kedalam aquadest selama 5 menit dan dikeringkan kembali. Parameter yang diamati pada uji lekat meliputi warna dan perubahannya serta bau dan perubahannya yang kemudian dibandingkan dengan uji spot. Berdasarkan data hasil praktikum diketahui bahwa secara umum terjadinya perubahan, baik pada warna maupun bau yang dihasilkan. Perubahan yang terjadi cenderung menurun, seperti bau yang semakin menurun maupun warna yang semakin memudar. Pada parameter bau ada kecenderungan bau dari pewangi tertentu yang semakin intensif. Hal ini dikarenakan adanya kemampuan atau daya lekat dari tiap jenis parfum yang berbeda. Perubahan bau dan warna itu terjadi karena perpindahan komponen senyawa kimia pada parfum yang berpindah pada aquades sehingga bau dan warna yang terjadi cenderung menurun dibandingkan sebelum direndam. Perubahan yang terjadi tersebut menentukan mutu parfum yang dihasilkan.

Uji selanjutnya untu menguji kualitas parfum adalah daya tahan wangi. Prosedur yang dilakukan untuk uji daya tahan wangi mirip dengan uji spreadibilitas, tetapi tetesan pada kertas saring dalam uji disimpan pada suhu ruang dan diamati perubahan aromanya dan warnanya tiap satu jam hingga bau dan warnanya menghilang. Hasil pada pengujian daya tahan wangi menunjukkan bahwa semakin lama waktu yang diberikan maka warna dan bau parfum akan semakin hilang. Berdasarkan data dapat diketahui bahwa untuk parameter warna semakin lama waktu pendiaman maka warna dari parfum semakin pudar, bahkan menghilang. Demikian juga untuk parameter bau yang semakin lama semakin kurang. Hal ini diakibatkan karena sifat dari minyak yang digunakan sebagi pewangi yang mudah menguap. Warna yang semakin memudar menunjukan bahwa kandungan minyak yang melekat pada kertas saring semakin lama akan semakin kurang dan akan habis. Uji daya tahan wangi dapat digunakan untuk mengetahui lama atau ketahanan dari parfum, sehingga dapat diketahui daya tahan dari parfum itu sendiri. Berdasarkan hasil uji, parfum dari kelompok tiga memiliki ketahanan atau daya tahan wangi lebih besar dibanding dengan kelompok lainnya. Hal ini dikarenakan komposisi dari kelompok tiga yang menggunakan bunga mawar dalam konsentrasi banyak. Kelompok 4 juga menunjukan hasil yang cenderung lebih tahan lama. Adanya kandungan minyak bunga mawar yang terlalu rendah akan menurunkan daya tahan wangi dari parfum itu. Dari uji ini dapat diketahui bahwa parfum jenis EDT memiliki daya tahan wangi yang lebih besar dibandingkan dengan jenis EDC dan EDP.

Uji yang terakhir adalah uji intensitas bau. Uji intensitas bau yang dilakukan pada produk parfum ini bertujuan untuk mengetahui seberapa lama bau parfum akan melekat kuat dengan daya intensitas parfum yang berbeda-beda tiap kelompok yang membuatnya. Formulasi parfum yang dibuat tiap kelompok berbeda-beda sehingga mempengaruhi keintensitasan bau parfum yang ada. Uji ini dilakukan cara mencium bau yang dihasilkan dari parfum dengan formulasi yang berbeda. Skala yang digunakan yakni 1- 5 dengan nilai 1 adalah sangat sedikit dan 5 menunjukan bau yang amat sangat intensif. Berdasarkan data hasil praktikum, dari kelompok 1 sampai 6 menunjukan hasil yang sama yaitu sangat intensif. Hasil praktikum menunjukan bahwa data yang dihasilkan tidak sesuai dengan lietratur. Menurut literatur bahwa parfum jenis EDP merupakan parfum yang memiliki daya tahan serta intensitas bau yang lebih dibandingkan dengan standar EDT maupun EDC. Hal ini dikarenakan parfum dengan standar EDP memiliki konsentrasi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan standar EDP maupun EDC.

3.2.2 Lilin Aromaterapi

Lilin telah digunakan secara luas sepanjang sejarah tidak hanya sebagai alat pencahayaan ruangan tetapi juga sebagai cara untuk mengatur suasana hati (mood). Tentu lilin biasa tidak dapat memiliki fungsi tersebut. Lilin yang dimaksud adalah lilin aromaterapi. Lilin ini adalah lilin yang dicampur dengan minyak esensial/ minyak atsiri, sehingga memancarkan uap terapeutik dari minyak esensial yang dihasilkan dari pembakaran lilin dan menghasilkan bau wangi yang dapat merelaksasikan pikiran dan menambah wangi ruangan. Lilin aromaterapi bukanlah sekedar lilin yang mengeluarkan aroma wangi seperti yang banyak tersedia di pasaran. Lilin pewangi hanya mengandung bahan pewangi saja seperti pewangi sintesis kimia dengan kualitas rendah dan tidak memiliki manfaat bagi kesehatan, sedangkan lilin aromaterapi dibuat dari minyak esensial (minyak atsiri) alami sehingga memiliki efek menyembuhkan dan menenangkan.

Lilin aromaterapi dapat digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk menghilangkan stres dan kecemasan. Salah satu cara lilin aromaterapi digunakan dalam pengobatan holistik adalah untuk mengambil keuntungan dari kemampuan lilin dalam memancarkan aroma. Aroma yang ditambahkan ke lilin akan memberikan energi penyembuhan dan proses menciptakan suasana santai. Lilin aromaterapi memiliki kemampuan alami untuk memberikan aroma dengan perlahan saat pembakaran.Lilin aromaterapi memiliki berbagai efek kegunaan yang berbeda, sesuai dengan kandungan minyak atsirinya. Dalam penggunaan lilin aromaterapi, kita harus memilih aroma yang tepat untuk efek yang diinginkan. Untuk tujuan aromaterapi, minyak esensial yang digunakan harus alami dan lilin berkualitas baik sehingga tidak menghasilkan asap yang bisa masuk ke paru-paru dan mengganggu kesehatan.

Bahan baku utama yang digunakan dalam pembuatan lilin aromaterapi adalah parafin dan stearin. Parafin adalah suatu hidrokarbon yang dapat diekstraksi dari batu bara, kayu dan serpih minyak. Parafin dapat ditemui dalam bentuk padat yaitu lilin parafin atau parafin cair yaitu minyak parafin. Pembuatan lilin aromaterapi biasanya menggunakan lilin parafin. Lilin parafin berbentuk padat, berwarna putih, tidak berwarna, dan mempunyai titik leleh sekitar 46o dan 68o C. Parafin tidak larut dalam air tetapi larut dalam eter, benzene, dan beberapa ester. Lilin parafin adalah isolator listrik yang baik dan merupakan bahan yang baik untuk menyimpan panas (Anonim 2009). Bahan utama lain yang digunakan dalam pembuatan lilin aromaterapi ini adalah stearin yang merupakan bahan turunan dari kelapa sawit. Keunggulan dari bahan ini adalah stearin diproduksi dari produk alami dari tumbuh-tumbuhan (Corinne, 2004). Stearin atau tristearin adalah turunan trigliserida dari tiga untit asam stearate. Stearin memiliki titik leleh pada 54.5ᵒC, 65ᵒC, dan 73o C.

Penggunaan parafin pada pembuatan lilin yaitu sebagai bahan bakar lilin agar dapat terbakar, sedangkan penggunaan stearin yaitu sebagai pemberi bentuk lilin dan membuat lilin menjadi tahan lama dalam pembakaran dan tidak cepat meleleh, memberikan tekstur keras sedangkan parafin memberikan tekstur lembek. Tujuan pencampuran antara parafin dan stearin ialah agar parafin yang dimasukkan dapat mengeras (karena sifat dasar dari parafin ialah cenderung lembek dan lentur pada temperatur dibawah titik leburnya) maka parafin perlu digabungkan dengan digabungkan dengan stearin. Menurut Corinne (2004), pembakaran berbahan dasar stearin lebih sempurna dibandingkan dengan parafin, di dalam api yang tenang lilin ini dapat terbakar habis dan tidak ada lelehan maupun asap. Sehingga baik digunakan untuk ruang tertutup, kamar anak-anak, ataupun industri rumah tangga yang memerlukan pembakaran dengan lilin. Selain itu, lilin yang mengandung parafin menyebabkan polusi dan jelaga.

Hasil pengujian pada praktikum menunjukkan bahwa rata-rata kekerasan lilin paling tinggi didapatkan pada kelompok satu yaitu sebasar 40.7 dengan komposisi stearin dan parafin 0 : 25. Kemudian kekerasan paling kecil yaitu diperoleh pada kelompok empat dan enam yaitu sebesar 10.7 dengan komposisi parafin: stearin adalah 7.5 : 15.5 dan 12.5 : 12.5. Kekerasan yang tinggi disebabkan oleh adanya komposisi stearin yang lebih rendah dibandingkan parafin.

Kekerasan suatu lilin memiliki pengaruh dalam penggunaannya, terutama pada saat pembakarannya. Lilin yang keras umumnya disebabkan karena kadar stearin yang lebih tinggi daripada parafin. Stearin menyebabkan daya tahan yang lebih lama karena lebih sifatnya yang keras sehingga tidak cepat meleleh dan waktu pembakaran lebih bertahan lama/ lilin tidak cepat habis dan begitu juga sebaliknya.

Titik leleh leleh didefinisikan sebagai temperatur saat sampel dalam pipa kapiler mulai menjadi cairan jernih. Uji titik leleh lilin menggunakan alat yang bernama electrothermal. Hasil yang didapat dari kelompok 1-6 untuk titik leleh diperoleh suhu berturut-turut adalah 47.2ᵒC, 48.2ᵒC, 51.4ᵒC, 44.2ᵒC, 60.8ᵒC, dan 50.5ᵒC. Hal ini menunjukan kandungan yang terdapat pada lilin tersebut, khususnya stearin dan parafin yang menyebabkan perbedaan suhu untuk dapat meleleh. Kandungan lilin yang digunakan saat praktikum antara lain parafin dan stearin, minyak atsiri sebagai aroma terapi, dan pewarna. Komposisi stearin dan parafin pada setiap kelompoknya yaitu sebagai berikut: kelompok 1 yakni 0 g dan 25 g, kelompok 2 yakni 2.5 g dan 22.5 g, kelompok 3 yakni 5 g dan 20 g, kelompok 4 yakni 7.5 dan 15.5 g, kelompok 5 yakni 10 g dan 15 g, dan terakhir kelompok 6 yakni 12.5 g dan 12.5 g.

Berdasarkan hasil percobaan, terlihat pada kelompok 5 mendapatkan hasil yang paling tinggi untuk suhu yang dibutuhkan lilin untuk meleleh yaitu pada suhu 60.8ᵒC sebagai titik pertama meleleh dan 98.8ᵒC sebagai titik meleleh habis. Berdasarkan literatur, apabila komposisi parafin yang digunakan tinggi, dapat menahan suhu lebih tinggi sebelum meleleh. Hal tersebut tidak sesuai dengan hasil percobaan, karena kelompok satu, dua dan empat memiliki komposisi parafin yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lima, namun titik leleh yang dimiliki masing- masing kelompok tersebut lebih rendah dibanding kelompok lima. Pencampuran dengan minyak olein dapat menurunkan titik leleh (Anonim 2013). Semakin lama lilin untuk dapat meleleh maka semakin baik mutu lilin tersebut sehingga lilin dapat dimanfaatkan dalam waktu yang cukup lama. Bahan yang membuat tekstur lilin menjadi lebih keras dan dapat tahan lama adalah stearin. Lilin yang cepat meleleh akan terlihat lembek karena kandungan parafin yang sedikit serta apabila terlalu banyak olein maka lilin akan berminyak.

3.2.3 Sabun

Menurut SNI (1994), sabun adalah sabun natrium yang umumnya ditambahkan zat pewangi atau antiseptik dan digunakan untuk membersihkan tubuh manusia dan tidak membahayakan kesehatan. Melihat permintaan konsumen yang sangat tinggi, aneka jenis, wangi, dan bentuk sabun pun mulai diciptakan. Saat ini, masyarakat lebih menyukai sabun cair dari pada sabun batang karena sabun cair tidak akan mudah terkontaminasi dengan mikroba pada orang lain apabila menggunakan sabun yang sama dalam waktu yang bersamaan. Berdasarkan jenisnya, sabun dibedakan atas tiga macam, yaitu sabun opaque, sabun translucent, dan sabun transparan.

Sabun transparan adalah sabun mandi yang mempunyai panampakan transparan (Mitsui 1997). Salah satu metode pembuatan sabun transparan adalah dengan melarutkan sabun dalam alkohol dengan pemanasan lembut untuk membentuk larutan jernih, yang kemudian diberi pewarna dan pewangi. Untuk membentuk struktur transparan pada sabun maka dalam formulasi sabun transparan ditambahkan beberapa bahan seperti gliserin, sukrosa, alkohol serta tranparent lainnya sehingga sabun transparan mengandung lebih sedikit sabun dari pada sabun mandi biasa. Selain mempunyai penampakan yang menarik, sabun transparan juga dapat merawat kulit karena mengandung gliserin dan gula yang berfungsi sebagai humektan yang dapat memberikan kelembaban pada kulit.

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat sabun transparan adalah minyak kelapa, natrium hidroksida, gliserin, etanol, gula pasir, cocoamide DEA, NaCl, asam sitrat, air, pewarna, dan pewangi. Masing-masing bahan mempunyai fungsi sesuai dengan kandungan bahannya. Minyak kelapa dan natrium hidroksida adalah bahan utama yang dapat menyebabkan terjadinya reaksi penyabunan atau reaksi saponifikasi. Asam stearat berfungsi sebagai bahan pengeras dan menstabilkan busa. Menurut Hambali et al (2005), menyatakan bahwa asam stearat memiliki sifat yang jenuh dan berbentuk padat pada suhu kamar, hal tersebut yang menyebabkan asam stearat dapat digunakan sebagai bahan pengeras dan memberikan konsistensi serta menstabilkan busa. Gliserin berfungsi sebagai pelarut dan merupakan humektan atau dapat bersifat menarik uap air dari udara kedalam kulit sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pelembap (Rahardja 2010). Selain gliserin, gula pasir juga dapat dijadikan sebagai humektan dan bahan pelembap. Penggunaan gula pasir pada pembuatan sabun transparan dapat mempengaruhi transparansi warna yang akan dihasilkan. Gula yang baik digunakan dalam pembuatan sabun transparan adalah gula pasir yang ketika dicairkan berwarna jernih seperti gliserin karena warna gula sangat mempengaruhi transparansi warna hasil akhir (Anonim 2009).

Bahan berikutnya adalah etanol dan coco-DEA. Etanol berfungsi sebagai pelarut NaOH dan asam lemak pada reaksi penyabunan pada dasarnya dapat larut, tetapi tingkat kelarutannya sangat rendah (Anonim 2008). Etanol pada pembentukan sabun berfungsi untuk memfasilitasi reaksi NaOH dengan asam lemak. Sedangkan coco-DEA berfungsi sebagai surfaktan dan penstabil busa yang dapat menurunkan tegangan permukaan sehingga fasa minyak dan fasa air dapat menyatu. Natrium klorida yang ditambahkan pada proses pembuatan sabun berfungsi untuk pembusaan sabun dan untuk meningkatkan konsentrasi elektrolit agar sesuai dengan penurunan jumlah alkali pada akhir reaksi sehingga semua bahan tetap seimbang selama pemanasan. Asam sitrat berfungsi sebagai agen pengelat atau agen sequestering yang mengikat ion-ion logam pemicu oksidasi sehingga mampu mencegah oksidasi minyak saat pemanasan. Selain itu, asam sitrat juga berperan sebagai pengawet dan pengatur pH sabun. Pewarna dan pewangi yang ditambahkan pada pembuatan sabun digunakan sebagai penambah kesan menarik dengan aneka warna dan efek wangi tertentu. Tingkat transparansi sabun dipengaruhi oleh kualitas alkohol, gula, dan gliserin (Widodo 2011).

Pada proses pembuatan sabun transparan, langkah awal dilakukan dengan cara mencampurkan asam stearat dan minyak dengan larutan NaOH pada suhu 65˚C. Setelah proses penyabunan selesai yang ditandai dengan terbentuknya masa sabun yang kental dan muncul cairan bening, ditambahkan bahan-bahan lain yaitu etanol 70%, propilen glikol, asam sitrat, dan terakhir ditambahkan larutan gula. Pencampuran bahan dilakukan pada suhu 65-70˚C dengan pengadukan 400-500 rpm. Setelah campuran homogen, sediaan sabun tranparan diturunkan dari pemanas dan ditambah pewarna dan parfum, kemudian dituang ke dalam cetakan dan didinginkan pada suhu ruang.

Pada pengujian sabun transparan hasil praktikum hanya dilakukan uji kekerasan dan pH. Uji kekerasan sabun menggunakan alat penetrometer. Uji kekerasan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kadar air dalam sabun dengan mengetahui tingkat kekerasan sabun dari masing- masing kelompok praktikum. Semakin dalam jarum penetrasi tertancap maka kadar air semakin tinggi dan sabun yang diuji semakin lunak (Purnamawati 2006). Berdasarkan analisis kekerasan, diketahui bahwa penetrasi jarum ke dalam sabun transparan yang dihasilkan berkisar antara 46 hingga 65 untuk kelompok 1, 45 hingga 52 untuk kelompok 2, 25 hingga 33 untuk kelompok 3, 35 hingga 57 untuk kelompok 4, 30 hingga 36 untuk kelompok 5, dan 26 hingga 38 untuk kelompok 6. Tingkat kekerasan sabun sangat dipengaruhi oleh kadar air. Menurut SNI tahun 1994, kadar air sabun maksimal 15%, bila lebih dari itu maka sabun yang dihasilkan akan lembek dan mudah larut dalam air. Berdasarkan nilai kedalaman pnetrasi jarum yang diperoleh dapat diketahui bahwa sabun kelompok 3 memiliki tingkat kekerasan paling tinggi, sedangkan sabun kelompok 1 memiliki tingkat kekerasan paling rendah. Hal tersebut membuktikan bahwa kadar air pada sabun kelompok 3 masih sangat tinggi. Namun, selain kadar air jumlah asam stearat juga sangat mempengaruhi tingkat kekerasan pada sabun jadi kemungkinan jumlah asam stearat yang diberikan kelompok 3 tidak tepat.

Berikutnya adalah uji pH pada sabun yang bertujuan untuk mengetahui derajat keasaman dari masing-masing sabun. Menurut literatur Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan menyebutkan bahwa pH sabun transparan komersial adalah 9.34, sedangkan berdasarkan pengamatan diperoleh pH sabun pada semua kelompok berkisar antara 11 hingga 13. Dalam formulasi sabun transparan, pH terkait jumlah penggunaan basa yang menentukan jumlah penambahan etanol. Semakin banyak basa yang digunakan, akan semakin sedikit etanol yang dapat ditambahkan sehingga pH tetap tinggi (Sito 2011). Berdasarkan hasil uji pH dapat diketahui bahwa sabun hasil praktikum kelompok 1-6 belum dapat digunakan karena terlalu tingginya pH yang dapat merusak kulit.

3.2.4 Massage Oil

Massage oil atau biasa disebut dengan minyak pijat merupakan minyak yang digunakan dalam proses pemijatan yang dapat menimbulkan efek rileks, hangat, dan tenang pada badan. Selain itu, dalam minyak pijat terkandung minyak atsiri yang berguna sebagai aromterapi. Massage oil berfungsi untuk meningkatkan penyembuhan yang sebelumnya sudah dilakukan pada tahun 4000-an oleh orang – orang di negeri Cina. Proses pemijatan menggunakan minyak pijat ini sangat bermanfaat untuk melancarkan peredaran darah, mengurangi kegelisahan, meningkatkan fungsi kulit, melembutkan kulit, dan meningkatkan pertumbuhan tulang serta gerakan persendian yang juga meningkatkan fungsi jaringan syaraf (Hutasoit 2002). Minyak pijat biasanya menggunakan minyak esensial yang dapat dengan mudah menyerap kedalam jaringan kulit dan juga mampu menstimulasi indra penciuman (Vickers dan Zollman 1999).

Kandungan dari minyak pijat terdiri dari minyak atsiri yang khasiat dan sifat campurannya diketahui yang dapat dikombinasikan menurut sifat dan tujuan penggunaannya. Jika terjadi proses yang salah dalam mengkombinasikannya akan menyebabkan campuran minyak pijat menjadi kurang bermanfaat dan memberikan aroma yang tidak diinginkan. Proses pembuatan massage oil pada umumnya hanya menggunakan prinsip pencampuran beberapa bahan hingga terjadi kondisi minyak yang terhomogenisasi. Bahan baku yang digunakan terdiri dari 97% minyak pembawa yang terdiri dari minyak VCO/minyak kelapa/minyak jarak yang dicampurkan dengan 3% minyak atsiri. Minyak atsiri yang digunakan dalam proses pembuatan ini adalah minyak kayu putih, minyak gandapura, minyak cengkeh, dan minyak sereh, sedangkan minyak pembawa yang digunakan adalah minyak kelapa. Komposisi yang digunakan pada minyak atsiri sangat beragam tergantung dari hasil yang nantinya diinginkan. Minyak kelapa yang merupakan minyak pembawa biasa digunakan sebagai sarana pemijatan karena bersifat melembapkan, menjaga kesehatan kulit, dan dapat dengan mudah menyerap kedalam jaringan kulit. Minyak kelapa memiliki kandungan vitamin E yang diyakini memang baik untuk kulit. Kemudian minyak atsiri yang digunakan dalam praktikum ini adalah minyak gandapura yang berasal dari daun Bcutherina pracumben memiliki kandungan utama metil salisilat sebesar 98% yang cocok digunakan sebagai obat gosok untuk menghilangkan pegal- pegal pada otot dan untuk pemberi rasa panas. Minyak gandapura biasa digunakan sebagai obat dari encok, reumatik, dan keseleo. Minyak gandapura berfungsi untuk melancarkan peredaran darah. Lalu, minyak sereh yang memiliki sifat menenangkan dan menyegarkan pada minyak pijat. Kandungan utama dari minyak sereh ini adalah sitronellal, geraniol, dan sitronelol. Selanjutnya adalah minyak cengkeh yng memiliki kandungan utama eugenol yang memang biasa terdapat pada minyak pijat. Minyak cengkeh dapat mencegah peradangan pada tubuh, mengobati luka, menghilangkan kuman, dan melemaskan otot pada tubuh (Ketaren 1985). Terakhir adalah minyak kayu putih yang merupakan minyak atsiri hasil destilasi atau penyulingan daun Melaleuca leucadendron Linn ini memiliki bau dan khasiat yang khas menyegarkan. Kandungan utama dari minyak kayu putih adalah sineol yang terdiri dari 55% total minyak kayu putih, saponin, flavonoid, dan tanin. Namun secara keseluruhan, keempat minyak atsiri ini memiliki sifat menghangatkan.

Pada praktikum ini terdapat enam sampel massage oil dengan kombinasi minyak atsiri yang berbeda – beda pada setiap kelompok. Pengujian organoleptik ini terdiri dari warna, aroma, kekentalan, kelembutan, dan kesan lengket pada kulit. Skala yang digunakan adalah skala ordinal 1-5. Panelis yang melakukan pengujian adalah praktikan yang terdiri dari 28 orang yang termasuk dalam golongan panelis agak terlatih. Pengujian pertama mengacu pada parameter aroma. Pada hasil perhitungan rata – rata dapat diurutkan bahwa rata – rata terbesar terdapat pada massage oil kelompok 1 dan 5 sebesar 3.21, lalu kelompok 6 sebesar 3.18, kelompok 4 sebesar 3.21, dan kelompok 2 dan 3 yang memiliki nilai rata – rata 2.86. Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus anova maka didapatkan hasil Fhitung sebesar 0.69 dengan Ftabel 1% sebesar 3.78 dan Ftabel 5% sebesar 2.57. Perhitungan ini menunjukan bahwa Fhitung lebih kecil dibandingkan Ftabel yang berarti tidak terdapat perbedaan yang nyata dari sampel 1-6 yang tidak perlu dilakukan perhitungan dengan menggunakan uji duncan. Hasil yang menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan nyata ini bisa disebabkan karena formulasi keenam sampel tidak terlalu berbeda jauh komposisinya.

Selanjutnya pengujian dengan parameter kehangatan dengan rata – rata berturut – turut dari kelompok 1 sampai 6 adalah 2.89, 3.0, 2.89, 2.79, 3.21, dan 3.12. Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan perhitungan data anova didapatkan Fhitung dari pengujian parameter kehangatan sebesar terbesar 1.14 dari Ftabel yang menggunakan taraf kepercayaan 1% didapatkan 3.78 dan taraf kepercayaan 1% didapatkan Ftabel sebesar 2.57%. Hal ini menunjukan bahwa Fhitung tidaklah lebih besar dari Ftabel yang berarti data yang didapatkan tidak menunjukan perbedaan yang nyata dan tidak harus dilakukan perhitungan dengan uji duncan. Hasil yang didapatkan tidak berbeda nyata karena formulasi yang dibuat oleh masing – masing kelompok menggunakan komposisi dengan perbandingan yang tidak terlalu jauh.

Pengujian selanjutnya dengan parameter kesan lengket dengan rata – rata dari setiap sampel dari kelompok 1-6 adalah 2.57, 2.57, 2.75, 2.75, 2.96, dan 3.04, sehingga dapat diketahui Fhitung dan dari pengujian organoleptik parameter kesan lengket adalah sebesar 1.20 dan dengan menggunakan taraf kepercayaan 1% didapatkan Ftabel sebesar 3.78 dan dengan taraf kepercayaan 5% didapatkan Ftabel sebesar 2.57. Hasil ini menunjukan bahwa Fhitung lebih kecill dari Ftabel yang berarti tidak terdapat hasil yang berbeda nyata sehingga tidak perlu dilakukan perhitungan dengan menggunakan uji duncan. Perbedaan yang tidak terlalu nyata ini disebabkan oleh komposisi bahan baku yang digunakan setiap kelompok tidak memiliki perbandingan yang terlalu jauh.

Massage oil yang baik tidak memberikan efek alergi pada pemakainya karena menggunakan bahan – bahan yang alami. Pengaplikasian minyak pijat ini dapat digunakan sebagai sarana pemijatan. Tren yang sedang terjadi dipasaran adalah penggunaan minyak pijat baik di salon maupun di rumah yang menggunakan bahan tambahan minyak atsiri yang berasal dari bunga karena akan memberikan efek aroma yang lebih harum. Minyak atsiri yang digunakan biasanya berasal dari minyak lavender, mawar, maupun minyak lemon. Kelebihan lain dari minyak ini juga sangat inovatif untuk diaplikasikan seperti minyak lavender dan lemon yang dapat digunakan sebagai pengusir nyamuk dan beraroma yang menyegarkan (England 2000). Minyak pijat ini mampu mempercepat penyembuhan dengan cara mengoleskan dan memnijatkannya pada bagian yang sakit. Proses pemijatan ini akan merangsang proses pelancaran aliran darah dan cairan tubuh serta membantu proses relaksasi di dalam tubuh.


3.2.5 Balsem

Balsem merupakan obat gosok yang memiliki karakteristik berbentuk semi padat dan memiliki kemampuan untuk melekat pada kulit, tekstur dari balsem ini juga lunak, mudah dioleskan, dan mengandung bahan aktif. Balsem biasa digunakan untuk penggunaan luar dan tidak untuk dikonsumsi. Kandungan dari balsem biasanya mengandung minyak atsiri. Fungsi dari balsem ini hampir sama dengan minyak pijat. Namun, yang membedakan adalah proses pembuatan dan karakteristik dari penampakannya. Bahan aktif yang terdapat pada balsem adalah minyak atsiri yang memiliki efek menghangatkan dan juga menyegarkan. Balsem biasa diaplikasikan untuk pemijatan untuk mengurangi ketegangan otot, memperlancar aliran peredaran darah, mengobati rasa nyeri akibat keseleo, pegal –pegal, maupun encok. Cara penggunaan balsem adalah dengan cara digosokan ke kulit yang kemudian kandungan dari balsem akan masuk kedalam pori – pori kulit (Ebadi 2007).

Proses pembuatan dari balsem ini menggunakan prinsip pemanasan dan pencampuran. Bahan yang digunakan untuk pembuatan balsem terdiri dari vaselin, parafin padat, menthol kristal, minyak peppermint, dan minyak atsiri yang terdiri dari minyak cengkeh, minyak sereh, minyak gandapura, dan minyak kayu putih. Vaselin berfungsi sebagai penutup oklusif yang menghambat penguapan kelembaban secara normal dari kulit dan melunakkan kulit. Vaselin putih merupakan massa lunak putih, tembus cahaya, tidak berbau dan tidak berasa. Parafin berfungsi sebagai bahan yang membuat balsem menjadi mengeras sehingga didapatkan tekstur yang semi padat pada produk balsem. Parafin memiliki sifat melembapkan, melicinkan, dan membantu pembentukan krim. Menthol kristal dan minyak peppermint merupakan bahan yang bersifat pedas yang berfungsi memberikan efek segar, dingin dan hangat pada kulit (Surya 2007). Minyak atsiri berfungsi sebagai bahan yang memiliki efek pengobatan, relaksasi, sedatif dan peningkatan sirkulasi darah. Balsem dibuat dengan memanaskan vaseln dan parafin sampai mencair pada dua tempat yang berbeda. Setelah itu kedua bahan tersebut dicampur dan diaduk sampa rata. Kemudian ditambahkan minyak atsiri, menthol kristal dan minyak peppermint secara berurutan (Oktovina 2006).

Pada praktikum ini proses pembuataan menggunakan komposisi minyak atsiri yang berbeda – beda yang akan menentukan hasil dari produk balsem. Pengujian dilakukan secara hedonik dengan menguji parameter aroma, kehangatan dan kesan lengket. Pengujian organoleptik ini menggunakan skala dari 1 hingga 5 yang menunjukan pada skala 1: sangat tidak suka, 2: tidak suka, 3: netral, 4: suka, dan 5: sangat suka. Pengujian organoleptik secara hedonik ini menggunakan panelis agak terlatih yang merupakan praktikan sebanyak 29 orang. Pada pengujian parameter aroma dapat diketahui rata – rata dari masing sampel balsem setiap kelompok dari kelompok 1-6 adalah 3.12, 2.82, 2.75, 3.0, 3.5, 2.79. Berdasarkan rata – rata diketahui bahwa aroma dari keenam sampel cenderung tidak disukai. Berdasarkan perhitungan menggunakan data terlampir didapatkan Fhitung dari pengujian parameter aroma sebesar 1.68 dan Ftabel yang didapatkan dari taraf kepercayaan 1% sebesar 3.78 dan dari taraf kepercayaan 5% sebesar 2.57. hal ini menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan nyata dari keenam sampel karena Fhitung menunjukan hasil yang lebih kecil dibandingkan Ftabel. Perbedaan yang tidak terlalu nyata ini disebabkan oleh formulasi dari keenam sampel tidak menunjukan perbandingan bahan baku yang signifikan. Karena hasil menunjukan perbedaan yang tidak nyata maka tidak harus dilakukan perhitungan dengan menggunakan uji duncan. Selanjutnya, pada parameter kehangatan dapat diketahui rata – rata dari masing – masing kelompok 1-6 adalah 2.89, 3.18, 3.04, 2.96, 3.29, dan 3.25. Kemudian dilakukan perhitungan untuk mendapatkan Fhitung yang didapatkan sebesar 0.88 dan dibandingkan dengan Ftabel yang menggunakan taraf kepercayaan 1% dan 5% yang didapatkan Ftabel sebesar 3.78 dan 2.57. hal ini menunjukan tidak terdapat perbedaan yang terlalu nyata antara masing – masing sampel karena Fhitung lebih kecil dari Ftabel. Maka selanjutnya tidak perlu dilakukan perhitungan secara uji duncan.

Selanjutnya parameter kesan lengket dapat diketahui dari rata – rata masing – masing sampel dari sampel 1 sampai 6 yang secara berturut –turut disebutkan yaitu 3.04, 3.0, 3.07, 3.12, 2.86, dan 3.21. Kemudian dilakukan perhitungan secara anova untuk mendapatkan Fhitung yang didapatkan sebesar 0.52 dan Ftabel dari taraf kepercayaan 1% dan 5% sebesar 3.78 dan 2.57. dari data yang didapatkan diketahui bahwa Fhitung lebih kecil dibandingkan Ftabel yang menunjukan tidak terdapat perbedaan yang nyata dan tidak perlu dilakukan uji duncan. Perbedaan yang tidak terlalu nyata antar sampel ini bisa disebabkan oleh perbandingan komposisi yang digunakan oleh masing – masing kelompok tidak terlalu jauh berbeda.

Balsem biasa diaplikasikan untuk keperluan mengurut maupun memijat. Cara penggunaan dari balsem adalah dengan cara dioles dan dipijatkan pada area tubuh yang diinginkan. Tren yang sekarang sedang terjadi adalah perubahan aroma balsem yang lebih inovatif agar dihasilkan balsem yang lebih menarik dengan sifat aromaterapi yang menenangkan dan menyegarkan. Selain itu, sifat dari balsem sekarang yang diinginkan adalah dingin di kulit. Produk seperti itu sudah banyak dijual dipasaran. Namun, tetap saja balsem yang lebih banyak diminati adalah balsem yang memiliki tingkat kehangatan yang tinggi dan aroma cenderung tidak dipedulikan oleh konsumen.

___________________________________________________

IV. PENUTUP


4.1 Kesimpulan

Parfum merupakan campuran dari zat pewangi, zat pelarut, dan zat pengikat yang dicampurkan hingga homogen dengan perbandingan tertentu. Berdasarkan konsentrasi zat pewanginya, parfum dibedakan menjadi pure parfum, eau de parfume, eau de toilette, eau de cologne, dan eau fraiche. Berdasarkan hasil organoleptik, parfum yang paling disukai oleh panelis adalah parfum dengan komposisi alkohol sebanyak 8.8 g, minyak mawar 0.3 g, minyak lemon 0.8 g, dan minyak sedap malam 0.1 g dengan fiksatif minyak nilam sebanyak 0.5 g. Uji organoleptik yang dilakukan telah menunjukkan bahwa uji duncan dalam perhitungan tersebut tidaklah berbeda nyata 1% maupun 5%. Analisa mutu parfum yang diujikan menunjukkan bahwa parfum yang dibuat bermutu baik. Pada uji spreadibilitas, uji spot, dan uji lekat ditunjukkan diameter parfum yang diuji sepanjang 1.5– 2.5 cm, bekas warna hampir tidak ada, dan aroma yang dihasilkan kuat. Pada uji daya tahan wangi, parfum yang dibuat dapat bertahan 5 jam.

Sabun biasanya digunakan untuk membersihkan tubuh manusia dan tidak membahayakan kesehatan. Berdasarkan jenisnya, sabun dibedakan atas tiga macam, yaitu sabun opaque, sabun translucent, dan sabun transparan. Sabun transparan adalah sabun mandi yang mempunyai panampakan transparan. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat sabun ini adalah minyak kelapa, natrium hidroksida, gliserin, etanol, gula pasir, cocoamide DEA, NaCl, asam sitrat, air, pewarna, dan pewangi. Uji yang dilakukan pada sabun adalah uji kekerasan dan uji pH. Diketahui bahwa sabun kelompok 3 memiliki tingkat kekerasan paling tinggi, sedangkan sabun kelompok 1 memiliki tingkat kekerasan paling rendah. Hal tersebut dipengaruhi oleh kadar air pada sabun dan jumlah asam stearat. Berikutnya adalah uji pH pada sabun yang seharusnya pH sabun transparan komersial adalah 9.34 sedangkan berdasarkan pengamatan diperoleh pH sabun pada semua kelompok berkisar antara 11 hingga 13. Hal ini mengakibatkan sabun hasil praktikum belum dapat digunakan karena terlalu tingginya pH yang dapat merusak kulit.

Lilin aromaterapi merupakan bentuk terapi holistik yang menggunakan minyak esensial yang telah disuling dari bunga dan herbal. Lilin aromaterapi digunakan sebagai penenang pikiran dan penghilang stress. Bahan utama pembuatan lilin aromaterapi adalah stearin dan parafin. Dari hasil pengamatan, bahwa semakin banyak stearin yang digunakan, maka tektur dari lilin semakin keras. Untuk uji titik leleh seharusnya semakin banyak stearin yang ditambahkan pada parafin titik lelehnya akan semakin rendah. Namun hasil yang didapatkan tidak sesuai literatur. Hal tersebut dapat disebabkan karena kesalahan pada pembacaan suhu saat terjadinya titik leleh pada lilin.

Massage oil merupakan produk minyak yang digunakan dalam proses pemijatan yang dapat memperlancar aliran darah. Balsem umumnya mengandung mentol dan peppermint yang berfungsi untuk menghangatkan bila dioleskan pada kulit dan untuk meredakan rasa sakit. Dari hasil uji dan perbandingan antara Fhitung dan Ftabel, massage oil yang diuji tidak memiliki perbedaan nyata pada parameter warna pada taraf 5% dan 1%, dan perbedaan nyata pada parameter aroma pada taraf 5%. Balsam yang diuji juga tidak memiliki perbedaan nyata pada parameter aroma, kehangatan dan kesan lengket pada taraf 5%.

4.2 Saran

Praktikum kali ini hanya membahas mengenai cara pembuatan beberapa produk pengembangan dari atsiri, oleh karenanya diperlukan lagi penelitian yang lebih lanjut untuk mengetahui kadar mutu yang dimilikinya. Dapat menuntun untuk berkreasi untuk membuat suatu produk turunan lainnya dengan kreativitas dan inovasinya masing-masing.

__________________________________________________

DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2008. Resep Sabun Mandi Batangan. http://www.forumsains.com/kimia/resep-sabun-mandi-batangan/ (diakses pada 30 April 2013).

Anonim. 2009. Pembuatan Lilin. http://trisqie.wordpress.com/paraffin/. (Diakses pada 30 April 2013).

Anonim. 2009. ­Membuat Sabun Transparan di Rumah. http://www.scribd.com/doc/12312853/ebook-sabun-transparan/ (diakses pada 30 April 2013).

Anton. 2008. Resep Parfum Badan. http://www.kursustristar.com (diakses pada 5 Mei 2013).

Corinne, B, 2004. Analysis of Essential oil of Indonesien Patchoulli using GC.Journal of essential oil research Ebadi M. 2007. Pharmacodynamic Basis Of Herbal Medicine, 2nd ed. New York: Taylor and Francis.

England, A. 2000. Aromatherapy and massage for mother and baby. Rochester, Vermont: Healing Arts Press.

Hambali, Erliza et al. 2007. Jarak Pagar, Tanaman Penghasil Biodiesel. Jakarta: Penebar Swadaya.

Hutasoit, Aini. 2002. Panduan Praktik Aromatherapy Untuk Pemula. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Ketaren, Semangat. 1985. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Jakarta: Balai Pustaka.

Mitsui, T. 1997. New Cosmetic Science. Amsterdam: Elsever.

Oktovina, D.M. 2006. 20 Ramuan Esensial Nusantara Untuk Cantik dan Bugar. Jakarta: Erlangga.

Purnamawati, Debbi. 2006. Kajian Pengaruh Konsentrasi Sukrosa dan Asam Sitrat Terhadap Mutu Sabun Transparan. Skripsi. Bogor: IPB.

Sito, Jakes. 2011. Formulasi Sabun Transparan dari VCO. http://klikpertanian.blogspot.com/2010/10/formulasi-sabun-transparan-dari-vco.html (diakses pada 4 Mei 2013).

Surya. 2007. Parafin. http://www.tristarchemical.com.index.php?option=com (diakses pada 8 mei 2013)

Rahardja, Kirana. 2010. Obat-obat Sederhana Gangguan Sakit Sehar-hari. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Resurreccion, Anna V.A. 1998. Food Commercial Products. Gaithersburg : English.

Vickers, A dan Zollman. 1999. Pijat Terapi . BMJ. 319 (7219) :1254-1257.


Williams, D. F.dan Schimtt. W. H. 1992. Chemistry and Technology of the Cosmetics and Toiletries Industry. Second Edition. USA : Chesebrough Ponds, Inc.

1 komentar:

  1. Terima kasih infonya gan, mantabbbsss.
    Ditunggu postingan2 lainnya.

    Gema Parfum :
    Parfum Terbaik Wanita.

    -------------

    BalasHapus