vintagehome

vintagehome

Kamis, 08 November 2012

Bayangan Air

"Siska, ada kabar bagus!" Rika mengagetkanku dari belakang.
"Kabar apaan, Ri?" tanyaku setengah heran melihatnya sedang mengatur nafas yang memburu.
"Lo harus lihat papan pengumuman sekarang juga.."
"Ada apaan sih emangnya?" aku kembali mengunyah sebuah bakso yang ada di mulutku. Belum sempat Rika menjawab, ia sudah menarikku ke arah papan pengumuman dekat ruang OSIS.
Benar saja, ternyata papan pengumuman sudah penuh dengan siswa siswi yang sedang heboh melihat sebuah pengumuman yang nampaknya sangat penting.
"Ini Sis, lihat deh." dia menarikku lagi ke dalam kerumunan siswa. Dia menunjukkan sebuah pengumuman beasiswa. "Nama gue ada di sana Sis, gue keterima sekolah di luar negeri!" Rika terlihat tampak senang dan bersemangat.
"Oh ya! Wah selamat ya Ri, aku turut senang." kataku sambil menggenggam tangannya.

* * *

Aku hanyalah siswa pindahan dari sebuah desa yang sangat terpencil. Aku dibawa ke kota ini oleh Tulang. Ia memang suka merantau dalam mencari pekerjaan, dan saat ia menemukan pekerjaan yang tepat di kota ini, ia memohon izin pada orang tuaku untuk membawaku ikut serta bersamanya. Ia yakin, pendidikan di kota ini jauh lebih baik ketimbang di desa terpencil. Begitulah alasannya.

Pertemuan itu, mengawali perkenalanku dengan Rika. Pagi itu, ketika hari pertama aku masuk sekolah, Rika lah yang menabrakku dengan semangkuk mie kuah. Bajuku menjadi basah, namun Rika berulang kali meminta maaf padaku atas kesalahannya. Meskipun kami tidak sekelas, namun kami menjadi akrab karena memiliki hobi yang sama, yaitu menulis. Aliran tulisan kami berbeda. Aku, lebih menyukai tema kolosal, sedangkan Rika lebih menyukai menulis kisah- kisah romantis.  Namun kami sering sekali membuat cerita bersama yang menggabungkan aliran keduanya.

Ia memiliki keinginan yang kuat untuk bersekolah di luar negeri. Saat ini, impiannya mungkin hanya satu, belajar di negeri seberang. Aku sebagai gadis kampung, yang hanya bisa melihat negara luar dari sebuh televisi, mengambil kesimpulan bahwa kehidupan di sana jauh lebih layak dan penuh dengan teknologi canggih. Apalagi dalam urusan pendidikan, tentu merupakan hal yang paling diperhatikan oleh pemerintahan di sana.

Aku selalu mendukungnya untuk mencapai impiannya itu.  Sejujurnya, aku sangat kagum padanya. Dia benar- benar gadis yang supel, multitalenta, dan menyenangkan. Dan aku... iri dengan keinginannya yang semua, hm mungkin tidak semua, tapi sebagian besar tercapai. Termasuk urusan beasiswa yang satu ini, aku dan dirinya mendaftar bersama pada saat itu, tapi nasibku tidak lebih baik darinya. Aku ditolak, sedangkan Rika diterima. Aku mengaku senang mendengarnya diterima di sebuah universitas di luar negeri, tapi kenyatannya semakin membuatku berfikir, mengapa aku tidak bisa seperti Rika, medapatkan semua hal yang ia inginkan?

Di saat ujian, aku selalu bersungguh- sungguh belajar demi mendapatkan nilai yang bagus dan memuaskan. Namun Rika tidak begitu, ia gadis yang senang bermain dan pada saat ujian, ia masih saja asyik berkutat di organisasinya. Aku termasuk siswa yang study oriented, hanya mengabdikan diri untuk belajar dan belajar. Aku hanya ingin orang tuaku di kampung, senang mendengar atas keberhasilanku yang ditunjukkan oleh tingginya sebuah nilai mata pelajaran, hanya itu.

* * *

"Rika diterima beasiswa, Sis?" tanya Rudi, teman sekelasku.
"Iya, Rud. Kamu sendiri diterima?" tanyaku.
"Gue kan dari tahap wawancara memang udah gak lolos, Sis. Gue emang nggak serius sih pengen dapetin beasiswa itu."
"Memang kenapa Rud? Kamu tidak ingin melanjutkan sekolah jauh- jauh ya?"
"Haha, ya bukan lah. Gue udah punya cita- cita yang harus gue kejar. Nah gue rasa jurusan di sana nggak ada yang pas buat gue. Waktu itu gue daftar hanya sekedar coba- coba aja, bokap ngedesek terus. Beliau pengen banget gue jadi dokter."
"Iya, sih. Wah malah kebalikannya sama aku ya, aku pengin banget diterima di sana." sahutku polos.
"Hahahaa, ya mungkin masih belum rezeki lo kali, Sis. Sabar ya, nanti pasti lo bakal diterima di lain tempat yang lebih pas buat lo." Hibur Rudi sambil mengacak- acak rambutku.

Rudi, seseorang yang dekat denganku selain Rika. Ia orang yang sangat baik padaku. Ia memang benar- benar mengerti bagaimana cara memperlakukan perempuan dengan baik. Caranya bersikap, termasuk menghiburku tadi. Aku menyukai saat ia mengacak- ngacak rambutku, dan terkadang ia juga suka mengusap kepalaku, hehehe.

Tidak ada yang tahu perasaanku yang sebenarnya pada Rudi, termasuk Rika. Aku malu untuk menceritakannya, karena aku dan Rudi sudah benar- benar dekat, namun kami hanya bersahabat. Kami memang berteman, tapi kami saling tergantung. I feel like I'm addicted with him.

* * *

"Siskaaaa, hehehe..." Rika menyapaku dengan cengengesan.
"Kamu kenapa, Rik?" tanyaku aneh melihatnya dengan ekspresi yang seperti itu.
"Ciyee, harusnya gue yang nanya sama lo. Lo kenapa deh senyum- senyum dari tadi?"
Sial, ternyata Rika memperhatikanku sejak tadi.
"Lagi liatin siapa sih? Itu ya?" Ia menunjuk seseorang yang sedang bermain futsal di lapangan. Aku gelagapan, panik, berusaha untuk menutupi.
"Lihat yang mana? Aku cuma lagi nonton futsalnya aja kok."
"Ah masa sih, gue merhatiin loh, dari tadi lo merhatiin yang itu terus.." Jarinya menunjuk pada sosok Rudi.
"Sok tahu kamu, Rik. Hahaha ya ampun, nggak lah." Jawabku malu- malu.
"Haha dasar, tampang lugu lo itu keliatan tau kalo lagi bohong." Rika makin menggodaku.

Aku hanya tidak ingin Rika tahu, mungkin belum saatnya.

* * *

Suatu ketika, setelah aku pulang try out, Rudi menghampiriku. Ia mengajakku pergi. Aku senang dan tentu saja aku tidak menolaknya. Sudah lama sekali aku tidak jalan bersama dengannya. Kami terlalu sibuk untuk persiapan ujian kelulusan nanti. Ia menungguku di gerbang sekolah dan melambaikan tangan padaku.
"Sis, ayo!"
Aku hanya tersenyum dan menaiki motornya.

Setelah kami mampir ke toko buku, berjalan- jalan untuk mencari barang yang ia butuhkan, akhirnya kami memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran. Di tengah- tengah percakapan kami, ia bertanya tentang sesuatu yang membuatku merasa cukup terkejut.
"Sis, Rika gimana kabarnya?"
"Ya, baik. Kenapa Rud?"
"Eh gue denger- denger dia udah punya cowok ya?"
"Hm, setahuku dia sudah putus. Emang kenapa sih?"
"Serius? Wah pasti lo bisa dong ya, bantuin gue buat deketin dia?" tanyanya dengan penuh harap.
Aku terkejut, jadi selama ini Rudi menyimpan perasaan dengan Rika? Aku terdiam, bingung, dan pikiran langsung mengawang- awang. "Bantuin apa Rud?"
"Bantuin jadi mak comblang gue dong, sebentar lagi kan lulus, banyak juga kan tuh anak- anak yang pada jadian, hehehe. Please.."
Aku bingung, "Hee.. Iya, aku bantu sebisaku ya.." Jawabku tidak yakin.
"Gue ga salah pilih orang nih, pasti lo orang yang tepat buat bikin gue deket sama Rika." Rudi makin bersemangat.

Setelah kami selesai makan, Rudi mengantarkanku pulang ke rumah. Aku benar- benar sedih. Rudi dan Rika adalah sahabatku. Perasaanku saat ini benar- benar sudah tidak karuan. Aku sudah berjanji untuk mengajak Rika untuk ikut serta jika kami berjalan bersama nanti. Apa daya, aku hanya ingin menjaga persahabatan ini tetap baik- baik saja.

* * *

Hari minggu ini, Rika berjanji untuk ikut menonton di bioskop denganku dan Rudi. Kebetulan ada film yang Rudi sukai akan tayang perdana. Saat Rika datang, semua rencanaku berjalan lancar untuk mendekatkan Rika dengan Rudi. Kami berjalan, berbincang- bincang, bercanda, dan tertawa. Hatiku sakit melihat mereka yang semakin hari semakin dekat. Aku tidak kuat bila suatu saat nanti melihat mereka benar- benar jaan berdua, tanpa diriku. Sudah saling memiliki. Aku sudah ingin menangis bila mengingat- ingat hal itu. Aku memutuskan untuk pulang saja, karena moodku untuk menonton film sudah rusak.

"Lo beneran mau pulang, Sis? Ada acara lagi ya?" Tanya Rika yang menyayangkan aku tidak ikut menonton bersamanya.
"Iya nih, udah harus pulang. Tulang mengajakku pergi ke pernikahan temannya." Aku terpaksa berbohong.
"Oh gitu, lo pulang sendiri apa dijemput?"
"Sendirian kok, hehehe."
"Lo beneran gak apa apa nih pulang sendiri?" Tanya Rudi meyakinkanku lagi.
"Santai, aku kan bukan anak kecil lagi."
"Hahaha lo kan bayi gede. Hati- hati diculik ya!" Rudi malah mengajakku bercanda dan kembali mengusap kepalaku.
Ah Tuhan, aku benar- benar ingin pulang secepatnya.

* * *

Malam hari, handphoneku bergetar. Pesan masuk dari Rudi.
'Sis, lo emang sahabat gue paling baik. Thank's ya! Besok gue traktir makan apa aja, sepuasnya. Hahaha, senang kan? :D'

Jleb. Hatiku bagai tertusuk. Perih rasanya. Aku mengetik balasan sms tersebut,
'Hehe, traktir dalam rangka apaan nih?'
Aku pura- pura tidak mengerti.

Selang beberapa detik, datang sms balasan.
'Gue udah jadi sama Rika. Tadi siang udah nembak dia, dan ternyata diterima. Lo pulang duluan sih, niatnya kan pengen minta bantuan lo lagi supaya eventnya lebih pol, hahaha.'

Hatiku terluka. Tapi siapa peduli?
'Wah selamat ya, gue besok mau makan sepuasnya. Siapin menu pilihan yang banyak.'

'Anything for you, Sis ;) Thank's a lot!'

* * *

Keesokan harinya, setelah Rudi mengantarkan Rika mengumpulkan berkas yang harus ia urus di kantor imigrasi, ia menjemputku ke rumah. Seperti janjinya kemarin, ia ingin mentraktirku makan, dan ia mengajakku untuk pergi ke restoran. Tidak banyak percakapan antara kami. Kami hanya membahas beasiswa Rika dan kepergiannya nanti. Tiba- tiba air mataku menetes. Aku menangis. Rudi yang melihatku tiba- tiba menangis terkejut dan panik.
"Sis, kok lo nangis? Ih kenapa? Gue salah ngomong ya?"
Aku diam, tidak menjawab pertanyaannya. Aku terisak- isak, benar- benar sedih.
"Sis, serius dong. Kalo ada ucapan gue yang salah, gue minta maaf ya? Jangan nangis lagi dong, please..." Ia memohon.
"Ngga, aku gak kenapa napa kok Rud, kamu ga salah apa- apa.."
"Jangan nangis lagi please. Lo kenapa?"
"Aku.. aku sedih Rika sebentar lagi pergi.." aku terpaksa berbohong. Aku tidak ingin merusak persahabatan antara aku dan Rudi ataupun aku dan Rika. Sejujurnya, aku hanya tidak ingin dijauhi Rudi.
"Oh, ya ampun. Rika kan bakal sering pulang ke sini, Sis. Jangan sedih lagi. Ya?"
"Hehe, iya.. Aku ngerti kok." Aku mulai tersenyum dan menghapus air mataku.
"Rika nggak bakal lupain lo begitu aja." Rudi meyakinkanku. Aku hanya menggangguk. "Gimana kalo nanti sebelum keberangkatan, kita pesta kecil- kecilan dulu? Yaa, minimal kan ada unforgetable moment bareng- bareng. Ya kan?"
"Iya.." aku tersenyum semakin lebar.

* * *

Rudi, teman dekatku, masih saja baik padaku. Bukan itu sebenarnya yang aku tangisi. Bukan itu yang sebenarnya yang telah membuatku sedih. Rika, yang juga teman baikku, benar- benar meraih semua yang aku inginkan. Aku hanya berfikir, semua ini bukanlah salahnya. Aku masih ingin ber-positive thinking. Semua pelajaran ini ada hikmahnya, mungkin suatu saat nanti, Tuhan akan menunjukkan jalan yang terbaik untukku, dan memberi apa yang aku butuhkan, bukan memberi yang aku inginkan. Aku percaya Tuhan maha adil. Saat ini, Rika hanya 'lebih beruntung' dari padaku. Namun aku tetap bersyukur, memiliki sahabat terbaik seperti mereka. Tuhan, jagalah hubungan persahabatan ini hingga nanti. Kehidupan ini akan berjalan terus seperti aliran air, air yang mencerminkan dan memberi arah kemana kita harus bermuara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar