vintagehome

vintagehome

Selasa, 02 Oktober 2012

Teknologi Pengolahan Teh



Laporan Praktikum Teknologi Bahan Penyegar 
Hari/tanggal : Selasa, 18 September 2012 
Golongan : P3
Dosen : Indah Yuliasih

Asisten : 
1. Luthfa Jamilah F34080065
2. Citra Dewi W.P F34080067 



TEKNOLOGI PENGOLAHAN TEH 



Disusun oleh : Kelompok 2
1. Suci Enggar A F34100091 
2. Wenny Ayunisa F34100093
3. Ahmad Faizal F34100104
4. Hafizah Khaerina F34100110
5. Nadhira Afina P F34100112
6. Tori Sane F34080036
7. Tsara Amalia F24125005 




2012
DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 

_________________________________________________________________________________________________


I. PENDAHULUAN 

1.1 Latar Belakang

Teh sudah dikenal sejak lama sebagai minuman dengan seribu khasiat yang menakjubkan. Seiring dengan perkembangan penelitian modern, teh terbukti bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan sebagai pencegah penyakit. Kini teh juga telah berkembang pesat menjadi minuman dengan berbagai rasa modifikasi untuk menyesuaikan selera konsumen. Kemasannya didesain menarik sehingga mendongkrak gengsi minuman teh menjadi seperti minuman kesehatan lainnya.

Teh merupakan minuman kesehatan yang telah dikenal sejak 5000 tahun yang lalu di negeri China. Kaisar yang memiliki kebiasaan meminum teh, menyadari adanya perbedaan rasa pada air teh. Ia merekomendasikan bahwa teh memiliki unsur menyembukan beragam penyakit. Riset modern akhirnya membuktikan khasiat teh yang dapat memberikan daya kekebalan tubuh untuk melawan berbagai penyakit serta memperpanjang usia.

Tanaman teh (Camelia sinensis) dibuat menjadi teh pada bagian- bagian tertentu. Pada umumnya, teh diambil bagian daunnya untuk diproses lebih lanjut, baik dalam skala industry rumah rangga maupun skala industri besar menjadi beraneka macam minuman teh di pasaran. Diperkirakan lebih dari 2,5 juta ton berat kering teh diproduksi tiap tahunnya di seluruh dunia.

Teh merupakan salah satu minuman yang paling popular di dunia. Posisinya berada pada urutan kedua setelah air. Seiring dengan perkembangannya yang telah menyebar ke berbagai belahan dunia, teh telah menjadi bagian yang menyatu dengan tradisi setempat. Di Beijing, pada peminum teh lebih menyukai teh bila diberi aroma bunga melati yang kuat dengan cara membakar daun teh terlebih dahulu dengan uap panas bunga melati segar. Lain halnya dengan di Mongolia dan Inggris, peminum teh lebih menyukai teh yang dicampur dengan susu sewaktu sarapan pagi. Sementara bagi sebagian besar orang Indonesia, teh bukanlah minuman yang asing karena telah menjadi bagian dari budaya. Oleh karena itu, pada praktikum kali ini, kami mencoba untuk membuat teh dengan cara pengolahan yang berbeda- beda yang nantinya akan menghasilkan produk dengan aroma, warna, dan rasa yang bervariasi.

1.1 Tujuan

Praktikum teknologi pengolahan teh ini bertujuan untuk mengetahui cara mengolah teh dengan berbagai cara yang ada, produk teh yang dihasilkan dengan klasifikasi yang berbeda- beda.


__________________________________________________________________________________________________

II. METODOLOGI 



2.1 Alat dan Bahan

Pada praktikum teknologi pengolahan teh digunakan alat dan bahan sebagai berikut yaitu daun teh segar, tray dryer, bunga melati, maltodextrin, kuali, nyiru, timbangan, pengaduk, aluminium foil, blower, alat penggulung, wadah tertutup, nampan, oven, desikator, pengemas, mesin silling, dan kain basah.

Sedangkan pada praktikum analisis mutu produk teh alat dan bahan yang digunakan adalah teh kering, air, larutan gelatin, larutan garam asam, larutan indigokarmin, kaolin powder, gelas piala 300 mL, sendok pengaduk, eksikator, saringan, penangas air, KMnO4 0,1 N, Na2S2O3 0,02 N, H2SO4 6 N, KI 20%, indikator PP, VRS apparatus, timbangan, petridish, oven, labu ukur 100 mL, buret, pipet dan labu aerasi.



2.2 Metode

Teknologi Pengolahan Teh

- Analisa Petikan

Diambil daun teh sebanyak 50-100 gram. Daun teh tersebut dipilah-pilah (daun dibiarkan tetap utuh, tidak dilepas dari tangkainya) menurut kelompok : pucuk kuncup (peko) + 1, peko + 2, peko + 3 atau lebih, pucuk burung + 1, pucuk burung + 2 atau lebih, dan pucuk tua. Masing-masing kelompok hasil pemisahan tersebut ditimbang dan dilaporkan hasilnya. Ditentukan apakah daun teh yang ada termasuk petikan halus, sedang atau petikan kasar. Dilakukan juga analisa proksimat (kadar air, kadar abu, kadar serat kasar, kadar tannin, dan Volatile Reducing Substance) masing-masing kelompok daun dan dilaporkan hasilnya.

- Pengolahan Teh Hijau Cara Pabrik Besar

Diambil daun teh secukupnya dan ditimbang (diukur pula kadar airnya). Daun teh dilayukan selama 15-60 menit sehingga daun mudah digulung (hasil ditimbang dan diukur kadar airnya). Daun teh yang telah layu selanjutnya digulung dengan tea roller sampai daun tergulung dengan baik (hasil ditimbang dan diukur kadar airnya). Daun teh selanjutnya dikeringkan menggunakan tray dryer sampai kering dan hasilnya kembali ditimbang dan dihitung kadar airnya. Neraca massa pengolahan teh hijau dibuat. Teh hijau kering dikemas dan disimpan untuk analisa teh kering dan seduhan teh.

- Pengolahan Teh Hijau Cara Rakyat

Daun teh diambil secukupnya dan ditimbang (kadar airnya diukur). Penggorengan besar, kompor dan nyiru disiapkan. Penggorengan diatas kompor dipanaskan dan dimasukkan daun teh segar kedalamnya. Daun teh diaduk-aduk dalam penggorengan agar merata. Setelah cukup layu, daun teh dituang ke atas nyiru dan digulung secara manual menggunakan tangan pada kondisi panas sampai semua daun tergulung. Kemudian ditimbang beratnya. Daun teh yang sudah tergulung dimasukkan kembali ke dalam penggorengan panas sambil diaduk-aduk sebentar (5-10 menit). Ditimbang 2 gram daun teh untuk dihitung kadar airnya. Selanjutnya daun teh dijemur sampai kering dan dibuat neraca massa pengolahan teh hijau cara rakyat ini. Kembali ditimbang berat akhirnya. Daun teh dikemas dan disimpan untuk analisa teh kering dan seduhan teh.

- Pengolahan Teh Hijau Garang

Pengolahan dilakukan seperti halnya pembuatan teh hijau cara pabrik dan cara rakyat. Setelah diperoleh teh hijau kering, daun teh tersebut dilembabkan kemudian dilakukan penggarangan pada suhu tinggi. Penggarangan dilakukan sampai warna daun teh menjadi coklat tua. Daun teh didinginkan, ditimbang dan diukur kadar airnya. Selanjutnya dikemas dan disimpan untuk analisa teh kering dan seduhan teh.

- Pengolahan Teh Hitam

Diambil sejumlah daun teh dan ditimbang (diukur kadar airnya). Daun teh tersebut dilayukan seperti pada pembuatan teh hijau cara pabrik besar dan digulung. Setelah digulung, difermentasi dengan menyimpannya didalam incubator bersuhu 35-40oC selama 1-3 jam, kemudian dikeringkan menggunakan tray dryer. Dilakukan penimbangan dan pengukuran kadar air pada setiap tahapan proses. Neraca massa pengolahan teh hitam dibuat. Daun teh dikemas dan disimpan untuk analisa teh kering dan seduhan teh.

- Pengolahan Teh Bunga

Teh hijau atau teh oolong yang telah dikeringkan ditimbang 100 gram kemudian dicampur dengan bunga melati 25 gram. Campuran teh dan bunga melati didiamkan dalam wadah tertutup selama 2-3 hari. Sebelum dipanaskan dengan pengering blower, bunga melati dipisahkan dari daun teh. Teh yang sudah kering dikemas dan disimpan.

- Pengolahan Teh instan

Daun teh hijau atau teh hitam ditimbang sebanyak 62,5 gram. Kemudian dipanaskan air sebanyak 500 ml sampai 85oC. Dimasukkan teh kedalam air dan didiamkan selama ± 10 menit. Filtrat disaring dari ampasnya. Ditambahkan maltodekstrin sebanyak 10% dari volume filtrat yang dihasilkan. Dikemas dengan plastik dan diberi kode, kemudian disimpan 1-2 hari. Dikeringkan dengan spray dryer.

_________________________________________________________________________________________________________



III. PEMBAHASAN 

Komoditas teh dihasilkan dari pucuk daun teh (Camelia sinensis) melalui proses pengolahan tertentu. Secara umum berdasarkan cara atau proses pengolahannya, teh dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis yaitu teh hijau, teh oolong, teh hitam dan teh putih.


Gambar 1. Proses Pembuatan Teh 

Teh hijau merupakan pucuk daun teh muda tanaman teh (Camelia sinensis) yang diolah tanpa melalui proses fermentasi. Pengolahan teh hijau itu merupakan rangkaian proses fisik dan mekanis tanpa proses fermentasi terhadap pucuk teh dengan menggunakan sistem panning (sangray). (Setyamidjaja. 2000). Teh hijau dibuat dengan cara menginaktifasi enzim oksidase/fenolase yang ada dalam pucuk daun teh segar, dengan cara pemanasan atau penguapan menggunakan uap panas, sehingga oksidasi enzimatik terhadap katekin dapat dicegah karena itu selain warnanya masih hijau juga masih mengandung tanin yang relatif tinggi. (Hartoyo, 2003)

Teh hitam mudah dikenali di pasaran karena warnanya hitam dan paling luas dikonsumsi. Dalam proses pengolahan diberi kesempatan penuh terjadi fermentasi (mengalami perubahan kimiawi sempurna sehingga hampir semua kandungan tanin terfermentasi menjadi theaflavin dan thearubigin) yang akan merubah warna daun teh dari hijau menjadi kecoklatan dan dengan proses pengeringan berubah menjadi hitam. (Setyamidjaja. 2000). Teh hitam dibuat dengan memanfaatkan terjadinya oksidasi enzimatis terhadap kandungan katekin teh. (Hartoyo, M. S.2003)

Sementara teh oolong dihasilkan melalui proses pemanasan yang dilakukan segera setelah proses rolling atau penggulungan daun, dengan tujuan untuk menghentikan proses fermentasi. Oleh karena itu, teh oolong disebut juga sebagai teh semi-fermentasi, yang memiliki karakteristik khusus dibandingkan teh hitam dan teh hijau. (Setyamidjaja. 2000). Umumnya diproduksi dari tanaman teh yang tumbuh di daerah semi tropis. Prosesnya sama seperti teh hitam, namun proses fermentasinya hanya sebagian (lebih singkat sekitar 30-70% dan perubahan berlangsung setengah sempurna sehingga masih mengandung sebagian tanin dan beberapa senyawa turunannya) sehingga warna dan aromanya di antara teh hitam dan teh hijau. (Anonim, 2011)

Teh putih merupakan jenis teh terbaik karena untuk mendapatkannya, hanya diambil dari satu pucuk tiap satu pohon, yakni pucuk tertinggi dan utama. Kandungan antioksidan paling tinggi. Dalam prosesnya, daun teh dibiarkan layu secara alami sehingga warnanya menjadi putih. (Hartoyo, M. S.2003). Oleh karena itu, teh putih biasanya mengandung konsentrasi katekin yang lebih tinggi dari teh lainnya. (Anonim, 2011)

Pemetikan adalah pemungutan hasil pucuk tanaman teh di atas bidang petik yang memenuhi syarat untuk diolah secaraberkesinambungan menjadi produk teh kering. Pemetikan dilaksanakan setelah perdu dipangkas sampai tiba saat pemangkasan berikutnya. (Arifin 1994). Jenis petikan ialah macam pucuk yang dihasilkan dari pelaksanaan pemetikan. Jenis petikan dapat dibedakan menjadi 3 kategori yaitu : petikan halus apabila pucuk yang dihasilkan terdiri dari pucuk peko (P) dengan satu daun, atau pucuk burung (B) dengan satu daun muda (M), biasanya ditulis dengan rumus P+1 atau B+1; Petikan medium apabila pucuk yang dihasilkan terdiri dari pucuk pekodengan dua daun, tiga daun, serta pucuk burung dengan satu, dua, atau tiga daun muda, ditulis dengan rumus P+2, P+3, B+1,B+2, B+3; Petikan kasar apabila pucuk yang dihasilkan terdiri dari pucuk peko dengan empat daun atau lebih, dan pucuk burung dengan beberapa daun tua, ditulis dengan rumus [P+4 atau lebih, B+(1-4 t)].

Analisis pucuk adalah pemisahan pucuk berdasarkan pucuk tua dan pucuk muda yang memenuhi syarat olah dan dinyatakan dalam persen. Adapun tujuan dari analisis pucuk adalah:
a. Menilai kondisi pucuk yang akan diolah.
b. Menentukan premi (upah tambahan) bagi pemetik.
c. Memperkirakan grade mutu teh yang dihasilkan

Pucuk daun teh yang memenuhi syarat olah di pabrik teh adalah pucuk halus yaitu dengan rumus petikan sebagai berikut : P+1, P+2m, P+2,P+3m,P+3, B+1m, B+2m, dan B+3m. Sedangkan pucuk yang tidak memenuhi syarat adalah pucuk kasar dengan rumus petiknya yaitu B+1, B+2 serta lembaran dan tangkai. Setelah dipisahkan antara pucuk yang memenuhi syarat olah dan pucuk yang tidak memenuhi syarat olah kemudian masing-masing pucuk ditimbang. Kemudian dihitung presentase beratnya. Presentase yangdinyatakan masuk analisis adalah apabila hasil presentase bagian yang memenuhi syarat olah ≥ 50%. Hal ini berarti lebih banyak pucuk yang halus daripada pucuk yang kasar,dan pada hasil produksinya akan menghasilkan teh dengan mutu satu.

Dari hasil percobaan dapat dilihat petikan-petikan yang dilakukan pada saat daun teh sedang dipanen seperti yang terlihat pada kelompok 1 (pengolahan teh hijau cara pabrik besar) dapat dilihat bahwa terdapat 2.043% jenis petikan peko +2 selain itu juga terdapat 84.348% untuk jenis petikan peko + ≥3. Selanjutnya sebesar 5,638% untuk petikan burung+2 dan yang terakhir adalah 7,971% untuk jenis petikan tua. Apabila dilihat dari kandungan kadar air yang terdapat didaun dapat dilihat bahwa jenis petikan peko + ≥3 memiliki kadar air tenrtinggi dengan 80,002% lalu diikuti dengan burung +2 sebesar 78,197% dan yang terakhir adalah jenis petikan peko+2 sebesar 73,44%. Kelompok 1 mengelola daun teh dengan cara teh hijau pabrik yang mana pengelolaan ini mengurangi kadar air secara signifikan yaitu kandungan kadar air yang terdapat diawal adalah 75,998% lalu kadar air ini menurun menjadi 24,646% ketika teh hijau olahan pabrik telah selesai.

Pada kelompok 2 (pengolahan the hijau cara rakyat) awal proses analisa petikan terdapat beberapa jenis petikan diantara nya adalah jenis petikan peko +1 sebesar 0.47% lalu peko+2 yaitu 2.19% jenis petikan peko + ≥3 sebesar 70.22%, untuk jenis petikan burung+2 adalah 4.495% dan yang terakhir adalah jenis petikan tua sebesar 6.69%. jika dilihat dari kandungan kadar air yang terkandung dari hasil analisis petikan dapatdilihat bahwa jenis petikan tua memiliki kandungan kadar air yang tinggi yaitu sebesar 80.81% yang diikuti jenis petikan burung +2 sebesar 79,93% , jenis petikan peko + ≥3 adalah 78.38% dan yang terakhir adalah jenis peko +2 sebesar 78.26%. Pengelolaan daun teh untuk kelompok 2 adalah teh hijau rakyat, menurut hasil praktikum dapat terlihat bahwa terjadi pengurangan kandungan kadar air yang dialami daun teh karena proses penyangraian yaitu sebesar 76,46% dan pada saat produk jadi menjadi 73.74%.

Kelompok selanjutnya adalah kelompok 3 (teh hijau garang 1) sama hal nya seperti kelompok 1 dan 2 tedapat beberapa petikan seperti petikan peko +2 sebesar 13,24%; lalu peko + ≥3 sebesar 79.9%; untuk jenis petikan burung+2 adalah 1,6% dan yang terakhir adalah jenis petikan tua sebesar 4.48%. Dilihat berdasarkan hasil praktikum dapat terlihat bahwa kandungan jenis petikan yang memiliki kandungan air tertinggi adalah jenis petikan peko + ≥3 sebesar 37,7% lalu jenis petikan peko +2 33.4%, petikan burung +2 32.5% dan yang terakhir adalah petikan tua sebesar 22.3%. untuk pengelolahan daun teh olajan kelompok 3 membuat teh garang hijau yang mana terdapat pengurangan kadar air akibat proses penyangraian yaitu pada saat awal daun teh terdapat 32.9% lalu pada saat teh telah disangrai maka kadar air menjadi 27.4%.

Pada kelompok 4 (teh hijau garang 2) untuk uji analisa petikan terlihat bahwa jenis petikan peko + ≥3 menjadi dominan yaitu sebesar 58.28%, lalu petikan burung +2 31,97% dan petikan tua 9.75%. akan tetapi hal ini tidak sama dengan jumlah kandungan kadar air yang terdapat didaun teh karena berdasarkan hasil pengamatan menunjukan bahwa jenis petikan burung +2 memiliki kandungan air terbesar yaitu 76.82%, lalu peko + ≥3 75.59% dan yang terakhir adalah petikan tua 75.58%. untuk uji pengelolahan daun teh kelompok 4 mengelolan daun teh untuk dijadikan sebaga teh hijau garang 2, berdasarkan hasil percobaan kandungan kadar air menurun dari 68.23% menjadi4.7% setelah dikeringkan lalu kadar air meningkat kembali menjadi 12% setelah proses penyangraian.

Untuk kelompok 5 (teh hitam) jelas terlihat bahwa petikan peko + ≥3 menjadi dominan yaitu sebesar 94,95% lalu petikan peko +2 2.48, petikan burung +2 1.71% dan yang terakhir adalah petikan tua sebesar 0.86%. apabila dilihat dari kandungan kadar air yang terkandung maka kandungan kadar air tertinggi terdapat pada petikan burung +2 sebesar77,19%, petikanpeko +2 76.56%, petikan peko + ≥3 ssebesar 75.97% dan yang terakhir adalah petikan tua 73.20%

Komoditas teh dihasilkan dari pucuk daun tanaman teh melalui proses pengolahan tertentu. Secara garis besar, teh mengalami proses pemanasan (pelayuan), penggulungan, pengeringan, dan sortasi. Proses pelayuan pada teh bertujuan untuk menginaktivasi enzim oksidase, mengurangi kadar air daun hingga mudah digulung, memperbesar konsentrasi polifenol, dan membentuk calon aroma teh. Selanjutnya, proses penggulungan bertujuan untuk mengecilkan partikel daun agar sesuai dengan ukuran partikel teh, membentuk bentuk daun tergulung, dan memeras cairan sel ke permukaan. Adapun proses oksidasi polifenol pada teh hitam yang bertujuan untuk mempertemukan polifenol dengan enzim fenolase dan mengakomodasikan berlangsungnya oksidasi polifenol. Kemudian, proses pengeringan pada teh bertujuan untuk mengurangi kadar air, mematikan enzim apabila masih ada aktivitas, memperpanjang umur simpan, membentuk keriting dan berbulir (Hartoyo, 2003).

Teh hijau adalah teh yang dibuat dengan cara menginaktivasi enzim oksidase dan fenolase yang ada dalam pucuk daun teh segar, yakni dengan cara pemanasan atau penguapan menggunakan uap panas. Pada pembuatan teh hijau ini, proses oksidase enzimatik terhadap katekin dapat dicegah (Soraya 2010). Teh hijau tidak mengalami proses fermentasi karena sebagian besar klorofil rusak selama proses pengolahan teh, terutama pada tahap pemanasan dan fermentasi. Hal ini akan menyebabkan warna teh hijau tidak berubah menjadi cokelat yang pekat atau hitam, serta aroma teh yang tercium tidak terlalu kuat atau menyengat.

Teh mengandung bahan- bahan yang cukup berkhasiat bagi tubuh, Theaflavin dan thearubigin adalah polifenol alami terdapat dalam teh hitam tetapi tidak dalam teh hijau. Seperti polifenol dalam teh hijau, teh hitam theaflavin dan thearubigin memiliki antioksidan dan anti-inflamasi. Berdasarkan strukturnya secara umum theaflavin terdiri atas empat senyawa utama masing-masing berupa theaflavin (TF1), theaflavin-3-gallate (TF2A), theaflavin-3'-gallate (TF2B) dan theaflavin-3,3'-digallate (TF3). Kandungan theaflavin dalam teh hitam berkisar antara 1-2% berat kering. Theaflavin secara sederhana dinyatakan sebagai senyawa yang mampu menghambat atau mencegah terjadinya oksidasi. Theaflavin merupakan antioksidan alami yang sangat potensial. Kemampuannya sebagai penangkap radikal bebas sudah tidak dapat dipungkiri lagi kesahihannya. Efektivitas theaflavin meningkat melalui proses esterifikasi dengan gallate dan ester digallate (Rohdiana, 2011).

Dalam seduhan teh hitam, theaflavin memberikan warna merah kekuningan, sementara itu thearubigin memberi warna merah kecoklatan. Untuk hal rasa, bersama-sama kafein, theaflavin memberikan rasa segar. Bersama-sama dengan kafein, theaflavin memberi kesan segar dalam seduhan teh. Rasio antara theaflavin dan kafein pada kondisi tertentu dapat menghasilkan seduhan teh yang sangat segar. Namun demikian, dalam kondisi dingin kedua senyawa tersebut akan menyebabkan creaming down suatu keadaan dimana seduhan teh terlihat keruh. Meski adanya creaming down tersebut tidak sedap dipandang mata, namun hal tersebut merupakan pertanda bahwa seduhan teh tersebut mempunyai kualitas yang baik. Thearubigin yang jumlahnya jauh lebih tinggi baik dibandingkan dengan theaflavin maupun kafein keberadaannya jarang disebut-sebut sebagai penentu kualitas rasa seduhan teh. Keberadaan thearubigin lebih ditekankan pada perannya terhadap warna seduhan. Thearubigin merupakan senyawa alami dalam teh hitam yang memberikan warna merah kecoklatan. Sedangkan theaflavin sendiri memberikan warna kuning kemerahan. Komposisi theflavin, thearubigin dan kafein dalam creaming down dapat dilihat pada tabel berikut ini (Rohdiana,2011)


Pada pengolahan teh, ditambahkan beberapa zat lain seperti maltodextrin dan gum arab. Maltodextring adalah golongan karbohidrat dengan berat molekul tinggi yang merupakan modifikasi pati dengan asam. Maltodextrin mudah larut dalam air, lebih cepat terdispersi, tidak kental, serta lebih stabil dari pada pati. Fungsi maltodextrin adalah sebagai pembawa bahan pangan yang aktif seperti bahan flavir dan pewarna yang memerlukan sifat mudah larut air dan bahan pengisi (filler) karena dapat meningkatkan berat produk dalam bentuk bubuk (Ribut dan Kumalaningsih, 2004).

Selain itu, gum arab merupakan jenis pengental yang tahan panas pada proses yang menggunakan panas. Gum arab dapat digunakan untuk pengikatan flavor, bahan pengental, pembentuk lapisan tipis, dan pemantap emulsi pada proses pembuatan produk makanan. Gum arab merupakan senyawa polisakarida kompleks yang mengandung anion kalsium, magnesium, dan kalium. Gum arab merupakan salah satu dari beberapa gum yang memerlukan konsentrasi tinggi untuk meningkatkan kekentalan dan dipakai sebagai penghambat pengkristalan dan pengemulsi (deMan, 1997)

Pada pengolahan teh bunga, teh hijau atau teh hitam yang diproses atau dicampur dengan bunga. Dikemas atau dimasukkan ke dalam sebuah wadah yang tertutup cukup rapat dengan sebelumnya mencampurkan serta bunga ke dalamnya. Teh yang bercampur dengan bunga ini, selama beberapa hari (tergantung banyaknya teh yang dibuat untuk menjadi teh bunga) akan beraroma bunga yang telah dimasukkan sebab teh mengikat wangi bunga. Teh bunga yang paling populer adalah teh melati yang merupakan campuran teh hijau atau teh oolong yang dicampur bunga melati. Bunga- bunga lain yang sering dijadikan campuran teh adalah mawar, seroja, leci, dan seruni (Rossi 2010).

Kandungan kadar air pada umumnya akan mempengaruhi tingkat kekeringan pada suatu bahan makanan seperti yang dilakukan dalam praktikum kali ini bahan yang digunakan adalah daun teh, daun teh yang memiliki kandungan kadar air yang tinggi maka pada saat proses pengeringan akan membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan daun teh yang benar-benar kering namun apabila daun teh memeiliki kadar air yang rendah maka proses pengeringan akan berjalan dengan cepat. Daun teh yang memiliki kandngan kadar air yang tinggi jika dikeringkan hanya dengan waktu yang sebentar maka daun teh akan lembab dan keadaan ini sangat mendukung untuk pertumbuhan jamur pada daun teh, selain itu juga tunbuh nya jamur pada daun teh dapat juga disebabkan oleh keadaan yang tidak sesuai dengan RH dari daun teh tersebut sehingga akan membuat jamur tumbuh pada keadaan dan yang terakhir adalah penanganan cara yang salah pada saat pembuatan sehingga jamur yang terdapat pada tempat yang digunakan sewaktu pembuatan teh akan ikut tercampur ke daun teh dan berkembang biak pada daun teh.

 _______________________________________________________________________________

IV.                   PENUTUP
1.1    Kesimpulan

1.2    Saran

________________________________________________________________________________

DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2011. Mengenal Teh dan Variannya. [terhubung berkala:] http://www.tehsekarmelati.com/ mengenal-teh-dan-jenisnya.html (diakses pada 1 Oktober 2012)

Arifin, S. 1994. Petunjuk Teknis Pengolahan Teh. Bandung: Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung.

DeMan, J.M. 1997. Kimia Makanan. Penerjemah Kosasih Padmawinata. Edisi II. Bandung : Institut Teknologi Bandung.

Setyamidjaja, Djoehana, M.Ed. 2000. Teh Budidaya & Pengolahan Pascapanen. Yogyakarta: Kanisius

Hartoyo, Arif. 2003. Teh dan Khasiatnya bagi Kesehatan. Yogyakarta : Kanisius.

Ribut, S. dan S. Kumalaningsih. 2004. Pembuatan bubuk sari buah sirsak dari bahan baku pasta dengan metode foam-mat drying. Kajian Suhu Pengeringan, Konsentrasi Dextrin dan Lama Penyimpanan Bahan Baku Pasta. http://www.pustaka-deptan.go.id [3 April 2011]

Rohdiana. 2011. Theaflavin, Polifenol Teh Hitam yang Diunggulkan. [terhubung berkala:] http://rumahteh.com/showthread.php?tid=37 (diakses pada 1 Oktober 2012).

Rossi, Ara. 2010. 1001 Teh – Dari Asal Usul, Tradisi, Khasiat Hingga Racikan Teh. Yogyakarta: CV Andi Offset.

Soraya, Ani. 2010. Sehat dan Cantik dengan Teh Hijau. Depok: Penebar Swadaya.

_________________________________________________________________________________

UNTUK MELIHAT DATA YANG DIBAHAS DI PEMBAHASAN



2 komentar:

  1. gausah buat blog jurnal kalo gabisa dicopy!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sengaja saya buat gabisa di copy paste, supaya orang-orang yang baca ada usaha, paling tidak buat ngetik ulang. Saya udah nyusun, saya udah share, lengkap dengan daftar pustakanya. Buat yang baca, boleh pake literatur yang ada disini untuk laporannya, tapi USAHA SEDIKIT ya ka :)

      Hapus