vintagehome

vintagehome

Senin, 13 Februari 2012

Untitled

Siang itu tidak begitu panas, awan begitu mendung dan gelap, pertanda akan turunnya hujan. Beberapa orang siswa yang sedang asyik bermain bola segera menghentikan permainan mereka dan mulai memasuki kelas. Ada juga beberapa dari mereka yang langsung menuju kantin karena sedang jam istirahat. Terlihat pula beberapa siswa siswi yang menuruni anak tangga musholla, selesai melaksanakan solat zuhur. Nadia, seorang siswi kelas 3 SMA sedang asyik berkutat di depan layar laptopnya.

"Woy Nad, lagi ngapain?"
Nadia menoleh, "Eh, elo Sar. Hehe biasa gw nyari pencerahan di sini. Tinggal separo lagi nih."
"Oh essay lagi ya?" tanya Sarah dan Nadia hanya mengangguk. "Lo udah makan belum? Makan yuk, gw laper nih. Temenin, please.."
"Belum sih, masih nanggung nih."
"Ayolah, laper.." jawabnya manja.
"Iya, sepuluh menit lagi deh ya?"
"Ok. Sekalian juga nanti gw mau cerita soal Tomi."
"Sip."

* * * * *

Kantin pada saat itu ramai sekali dipenuhi oleh murid- murid berseragam putih abu. Mereka mulai mencari tempat yang nyaman untuk makan. Mulai beringas seperti makhluk- makhluk yang sudah lama tidak makan untuk ratusan tahun. Hujan mulai turun perlahan.

"Sar, udah ujan nih. Buruan dong makannya." ujar Nadia sambil melihat jendela ke luar.
"Bentar lagi gw abis, lo beli minum aja dulu." jawabnya sambil mengunyah.
"Gw udah beli nih. Ayo ah cepet."
"Buru- buru banget, Nad." Tiba- tiba suara yang tidak begitu asing terdengar.
"Erik! Ngagetin ih kamu!"
"Hahaha tungguin aku beres makan dulu dong, Yang."
Nadia hanya duduk diam. Manyun.
"Oh iya, nanti pulang bareng ya? Aku mau minta temenin kamu buat nyari kado untuk mama."
"Kapan ulang tahunnya? Kok aku gak inget?"
"Besok, Yang. Ya iya lah kamu gak inget, aku kan gak pernah bilang sama kamu ulang tahun mamaku kapan."
"Oke." Nadya tersenyum.
"Jadi gw ditinggal nih? Gw dilupakan?" kata Sarah sambil memelas.
"Hahaha cuma hari ini kok, Nad. Besok- besok kan kita masih bisa pulang bareng. Jangan ngambek ya? Hihi makanya lo cepet cari pacar dong."
Sarah cemberut menanggapinya. Nadia dan Erik hanya tertawa melihat kelakuannya yang seperti anak manja. Mereka mulai berjalan menuju kelas masing - masing.

* * * * *

Nadia dan Erik adalah sepasang kekasih. Mereka sudah berjalan bersama selama tujuh bulan. Bukan tanpa hambatan mereka melewati waktu bersama. Terkadang mereka berselisih paham, sama seperti pasangan yang lainnya. Sejauh ini hubungan mereka masih baik- baik saja karena mereka tampak masih bisa mengatasi perbedaan yang ada.

Sarah adalah sahabat Nadia sejak kelas satu SMA. Mereka bertemu saat MOS (Masa Orientasi Siswa). Mereka berdua satu regu dan perkenalannya pada saat itu berujung pada persahatan yang sangat dekat. Mereka sudah saling mengerti satu sama lain. Sarah lah yang mengenalkan Erik pada Nadya, hingga saat ini mereka jadian.

Kini mereka sudah hampir tiga tahun menjalani kehidupan di SMA. Mereka sangat disibukkan dengan kegiatan akademis karena sebentar lagi akan ada Ujian Akhir Nasional. Tidak cukup sampai di situ saja, tentu masih ada beberapa ujian yang akan mereka jalani, Ujian Akhir Sekolah dan Ujian menuju Perguruan Tinggi. Nadia, salah satu siswi yang sangat tertarik untuk belajar ke luar negeri. Dia memiliki impian untuk dapat belajar di negeri Paman Sam. Sudah beberapa langkah ia tempuh untuk dapat mewujudkannya. Dia sangat berharap usahanya selama ini tidak sia- sia dan dapat segera terwujud. Nadya sangat fasih dalam berbahasa Inggris karena maklum saja ayah tirinya adalah seseorang yang lahir dan tinggal London. Bertemu dengan ibunya saat mereka sedang melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi di Inggris. Ayah tirinya sering kali bolak- balik ke London dan menetap di sana. Nadya sendiri belum pernah tinggal lama di sana karena sewaktu ibunya di London, ia dititipkan kepada neneknya, tapi ia cukup sering untuk mengunjungi papanya disana. Setelah ibunya lulus S2, ibunya kembali pulang ke Indonesia dan ayahnya tetap menjadi seorang kewarganegaraan Inggris.

Saat ini, Nadya hanya tinggal bersama ibunya. Sering kali mereka cekcok karena perbedaan pendapat. Jalur yang dia tempuh untuk mendapatkan beasiswa di Amerika mungkin juga tidak disetujui ibunya. Ibunya hanya ingin Nadia menjadi seorang dokter, namun Nadya hanya berminat menjadi seorang lulusan teknik sipil. Ia sangat suka menggambar dan pemahamannya mengenai hitung- hitungan juga cukup kuat.

* * * * *

Nadia berjalan memasuki kelas bersama Sarah, dan duduk di bangku mereka. Nadia meletakkan laptopnya di kolong meja, namun ia merasakan ada suatu barang asing ada di lacinya. Ternyata sebuah kotak kayu kecil. Lalu ia membukanya dan sangat terkejut ternyata isi kotak itu adalah tiga ekor kecoa. Sontak Nadia pun berteriak dan menjauh dari bangkunya.

"Ih siapa yang naro kecoa di laci gw?!" teriak Nadya.

Teman- teman sekelasnya hanya tertawa melihat ekspresi kaget dan ketakutan Nadya. Sarah berusaha untuk mematikan kecoa tersebut dengan menginjak- injaknya. Tawa keras dan menggelegar terdengar dari bangku yang paling belakang. Nadya melihat dan ia langsung menunjukkan tampang yang marah dan kesal. Lagi- lagi Dika. Dia yang selalu mengerjai Nadya semenjak mereka duduk di kelas yang sama. Tanpa tahu alasannya, setiap harinya kejadian ini sudah sering terjadi dan menjadi bahan tertawaan di kelas. Dika sendiri adalah sahabat baik Erik sejak SMP. Tentu saja itu membuat heran dirinya karena bagaimana bisa pacarnya berteman dekat dengan orang yang selama ini dia anggap sebagai musuh bebuyutan dan sering mencari ribut dengannya.

"Ih ini kerjaan lo kan, Jan?!" Tuduh Nadya yang memanggil Dika dengan sebutan wajan, karena wajahnya yang hitam menurutnya.
"Lo nuduh tanpa bukti. Gak bisa gitu dong!" Sanggah Dika sambil berkacak pinggang menahan tawa.
"Kalo bukan lo siapa lagi. Udah gak usah pura- pura. Tunggu aja balasan dari gw!"
"Sure, gw tunggu balasannya. Hahaha." Jawaban singkat yang ditambah nada tawa yang panjang dan sangat puas.
"Nad, kecoanya udah mati semua tuh. Ayo duduk lagi, Ibu Siti udah di depan kelas tuh." Sarah memecah ketegangan diantara mereka.

Nadia langsung duduk di bangkunya dengan hati yang sangat kesal. Ia ingin sekali membalas perbuatannya Dika. Apa sih salah dirinya hingga Dika tega setiap hari menyiksa dirinya dan menjadikannya bahan ledekan teman sekelasnya. Dalam diri Nadia, dia menganggap Dika adalah penganggu yang sulit untuk dikendalikan karena dia selalu memiliki berbagai cara untuk mengerjainya dengan cara yang tidak disangka- sangka.

* * * * *

"Aku kesel nih."
"Kamu kenapa, Nad? Dika lagi?"
"Iya. Siapa lagi kalo bukan dia yang bisa bikin aku kesel seharian!"
"Hahaha ya ampun kalian berantem terus. Emangnya dia kenapa?"
"Dia ngerjain aku lagi, Yang. Kamu tahu kan aku paling takut sama kecoa? Tadi siang tuh dia naro kecoa di laci aku. Jijik banget, ih."
"Kalian berdua itu akur kenapa sih? Kalian kan orang yang paling deket sama aku."
"Kamu tuh, Yang. Aku bingung kenapa kamu masih mau temenan sama dia. Dia tuh ngeselin."
"Dia tuh baik tahu sebenarnya, coba kamu ngobrol sama dia dulu deh. Eh kamu jangan manyun gitu dong, aku pengen ketawa nih jadinya, hahaha."
"Ogah! Kamu malah ngebelain dia kan." jawab Nadya sambil cemberut.
Lalu mereka mulai meninggalkan parkiran sekolah dan pergi untuk mencari kado mamanya Dika.

* * * * *

Beberapa minggu kemudian setelah melewati UAN dan UAS.

"Sar, bangun dong!" Suara dari seberang telepon.
"Haaa.. Ada apaan sih, Nad?" jawab Sarah terkantuk- kantuk.
"Bangun dulu. Lo sekarang juga mesti anterin gw."
"Kemana? Ya ampun, Nad ini masih pagi banget. Gw mau tidur lagi."
"Bangun ah cepetan, gw udah di depan rumah lo nih. Gw nunggu lo bangun lagi bisa jamuran di sini."
"Hah? Ya udah lo masuk dulu lah. Iya gw mandi dulu deh."
"Nah gitu dong, see you!"

Nadia masuk ke rumah Sarah setelah pintu pagarnya dibukakan Mbok Sum, pembantu rumah Sarah. Rumahnya tidak begitu besar namun cukup luas untuk ditempati oleh Ayah, Ibu, dan satu adik lelakinya. Tidak lama, setelah Sarah mandi, mereka segera meninggalkan rumahnya.

"Mau kemana sih kita, Nad? Gila lo ya, masih pagi begini juga."
"Anterin gw lah bikin visa." jawab Nadia singkat.
"Visa buat apa?" tanya Sarah polos.
"Menurut lo?"
"Oh God, lo jadi ke US?"
"Iya, Sar. Gw diterima! Hahahaha."
"Sumpah? Nad selamat ya! Akhirnya, penantian lo selama ini terjawab juga. Gw ikut seneng nih." ujar Sarah sambil memeluk sahabat baiknya itu, "Erik udah tahu?"
"Iya, dia orang yang pertama tahu. Gw seneng banget deh, Sar."
"Ngomong- ngomong, nyokap lo setuju lo mau kuliah di sana?"
"Gw udah coba ngomongin itu kok, dan nyokap gw juga setuju. Beliau mau tinggal sama bokap di London."
"Uh, selamat ya sayang. Congratulation for you! Kita makan- makan dimana nih?" goda Sarah. Mereka pun tertawa.

* * * * *

Hari ini Nadya berangkat ke sekolah. Niatnya dia ingin mengambil buku tahunan dan mengurus beberapa berkas bersama Erik. Beberapa hari ini, Erik selalu direpotkan oleh Nadya untuk mempersiapkan segala keperluannya untuk pergi nanti. Erik sudah diterima di jurusan teknik mesin di salah satu perguruan tinggi negeri yang sangat terkenal. Sambil mengisi jadwal kosong, ia jadi lebih sering menemani Nadya, pacarnya itu.

Mereka datang ke sekolah setelah selesai mengurus berkas di kedutaan besar. Surat- surat penting, paspor,  visa, dan surat undangan untuknya sudah ia simpan rapi di sebuah map. Lusa, ia akan meninggalkan Indonesia dan akan belajar di negeri impiannya selama empat tahun ke depan.

Erik dan Nadya berpisah di depan kelas Nadya. Buku tahunan itu akan dibagikan di kelas dan masing- masing kelas akan membicarakan tema perpisahan yang akan diadakan minggu depan. Nadya dengan senyum yang sangat ceria, datang dan duduk di bangku sebelah Sarah.

"Semuanya udah beres, Nad?" tanya Sarah menanyakan persiapan Nadya.
"Udak kok, lusa gw berangkat nih. Doain ya."
"Always. Good luck ya di sana. Gw sedih nih ditinggal lo pergi. Jauh banget lagi."
"Nanti kalo liburan gw bakalan pulang ke Indo kok. Jangan kangen yah, hahaha."

Setelah pembagian buku tahunan dan pembicaraan mengenai perpisahan sekolah usai, Nadya berencana pulang ke rumahnya untuk menyelesaikan keperluan packing. Ia tidak melupakan mapnya, namun ia baru sadar ternyata mapnya tidak ada di sampingnya. Ketika ruangan kelas sudah sepi, ia masih tetap mencarinya ditemani sahabatnya. Setelah menjelajah bangku di seluruh kelas namun map yang ia cari belum ditemukan juga, Nadia mulai panik dan hampir menangis.

"Map gw gak ada, Sar. Gw harus gimana? Sumpah tadi tuh gw naro di sini." ujar Nadya lemas sambil menunjuk mejanya.
"Mungkin lo lupa naronya dimana tadi. Ada di Erik mungkin mapnya?"
"Ngga. Gw yakin banget kok gw yang bawa mapnya. Gimana dong, kalo surat- suratnya ilang, mana bisa gw pergi." Nadya mulai menangis. Sarah menjadi panik.
"Kita cari lagi ya, Nad. Jangan nangis lagi. Lo duduk di sini deh, gw yang cari ya ke depan kelas."
Nadya hanya mengangguk sambil sesegukan dan Srah mulai meninggalkannya.

"Heh cengeng, lo kenapa nangis gitu?" tanya Dika. Nadya hanya terdiam, malas meladeni Dika. "Udah deh gak usah lebay gitu hahaha."
"Diam ah. Gw lagi males berdebat sama lo!"
"Berantem sama Erik ya? Haha kasian banget sih lo."
"Sok tahu."
"Apanya yang sok tahu? Gw tahu kok apa yang lo cari. Eh, ups."
"Apa? Lo tadi bilang apa?"
"Ini map lo. Gw yang ngambil tadi, makanya jangan naro sembarangan."
"Oh jadi lo yang ngambil mapnya? Jahat banget ya lo udah mau lulus juga masih ngerjain gw. Lo tahu gw tuh udah panik banget nyari map ini. Kalo ini semua ilang, gw gak..."
"Gak bakal bisa pergi?" lanjut Dika yang memotong pembicaraan Nadya.
"Brengsek lo, gw benci banget sama lo!"

Nadya membuka map dan memeriksa semua berkasnya, memastikan semua surat- surat masih lengkap. Kemudian dia panik, karena kehilangan surat undangannya yang diwajibkan untuk dibawa ketika pergi nanti.
"Surat undangan gw mana?" tanya Nadya dengan penuh curiga.
"Surat undangan apa? Gw gak tahu."
"Dik please ini serius. Gw gak bisa pergi tanpa surat itu."
"Ngga, Nad. Gw ga ngambil apapun dari map itu. Sumpah."
"Tapi nggak ada, Dik. Ayo dong kembaliin"
"Nad, sumpah gw ga ngeluarin apapun dari map. Masa sih gak ada?"
"Gak ada. Udah berkali- kali gw cari."
"Maaf, Nad. Gw gak tahu surat itu dimana, karena gw ga ngambil apapun."
"Tapi kenyataannya gak ada, Dik. Sekarang gimana? Gw udah bener- bener speechless.." Nadya menangis lagi dan meninggalkan Dika.
"Loh, Nad mau kemana?" tanya Sarah yang datang dengan muka kebingungan. Nadia tidak menjawab. Ia benar- benar kesal dan ingin segera pulang.
"Maaf, Sar.." ucap Dika pelan.
"Nadya kok pulang? Mapnya udah ketemu?"
"Udah, kok. Tadi gw yang bawa map dia."
"Lo jail banget sih. Syukur lah udah ketemu."
"Tapi surat undangannya gak ada."
"Kok bisa? Lo kemanain?"
"Gw gak ngerti kenapa bisa gak ada, Sar. Tapi gw yakin gw nggak ngambil apapun."
"Ya udah, gw coba kejar Nadya ya."

Tidak lama, Erik datang ke kelas hendak menjemput Nadya. Namun di kelas itu hanya ada Dika.
"Dik, liat Nadya ngga?"
"Sorry banget, Rik. Nadya marah banget tadi sama gw. Tadi gw ngerjainnya keterlaluan banget mungkin." Dika mencoba menjelaskan pada Erik dengan sangat menyesal.
"Emang biasanya lo ngerjain dia kan? Terus dia sekarang pulang?"
"Iya dia tadi langsung pergi. Tadi gw ngumpetin mapnya sampe dia panik banget. Tapi ternyata berkasnya ada yang ilang katanya."
"Lo yakin? Berkas apa katanya?"
"Surat undangannya. Maaf banget, Rik. Niat gw cuma bercanda. Gw gak tahu kalo ada yang ilang. Mungkin tadi jatuh. Gw gak sengaja bikin dia sampe nangis gitu."
"Oh.. Ya udah lah biar gw aja yang ngurusin dia. Dik, gw boleh nanya sesuatu sama lo?"
"Apa, Rik?"
"Lo suka sama Nadya?" tanya Erik singkat.
"Kok lo nanya gitu?"
"Nanya aja, gw kan sahabat lo."
"Dulu, gw sempet suka sama dia, tapi semenjak dia jadian sama lo, gw gak suka lagi kok. Bener deh. Maaf ya."
"Haha, iya santai aja. Eh gw balik duluan ya, mau nyari Nadya dulu nih."
"Sorry ya, Rik. Sampein maaf juga buat Nadya!"
"Ok bro."

* * * * *

Nadya menangis di kamarnya. Sejak pulang tadi, ia langsung masuk ke kamar dan mengunci diri di sana. Ibunya sangat terkejut melihat anaknya yang pulang dengan mata sembab dan menangis tanpa henti. Nadya tidak ingin berbicara dengan siapapun. Ia sangat sedih karena rencana pergi ke negeri impiannya itu terancam batal. Tiba- tiba handphonenya berbunyi, nama Erik tertulis di layar.

"Nad, kamu dimana?"
"Di rumah."
"Aku boleh dateng ke rumah kamu sekarang?"
"Aku lagi gak mau ketemu siapapun."
"Jangan gitu, aku ke sana sekarang ya. Bye." Erik langsung memutus telepon.

Nadya langsung merapikan bajunya yang lusuh dan segera mencuci muka. Sebentar lagi Erik akan datang menemuinya. Tak lama, Erik datang dan Nadya keluar menemui Erik.

"Kamu nangis ya?" tanya Erik, Nadya hanya terdiam. "Kamu jangan nangis lagi. Kamu nyari surat undangan? Udah jangan sedih lagi."
"Aku batal pergi ke sana kalo suratnya ilang.."
"Ini." kata Erik sambil mengeluarkan surat. Nadya membukanya, ternyata itu adalah surat undangan.
"Kok ada di kamu?"
"Iya, waktu di kedubes tadi, kamu lupa masukin ini ke map. Aku juga lupa bilang kalo suratnya ada di aku. Maaf ya udah bikin kamu cemas."
"Aku udah panik banget waktu tahu surat ini ilang. Makasih, Erik." Nadya tersenyum.
"Oh iya, Dika tadi nitip maaf buat kamu."
"Dia udah keterlaluan."
"Tapi kan suratnya udah ketemu, sayang. Jangan marah lagi dong."
"Aku emang udah lama kesel sama dia. Ya udah lah biarin aja. Biar jadi pelajaran buat dia."
"Kamu jangan cemberut lagi ya. Lusa kamu jadi pergi kan, sekarang kamu periksa semua keperluan kamu ya. Besok istirahat di rumah. Lusa aku anter kamu ke bandara." hibur Erik sambil mengelus kepala Nadya. Nadya tersenyum lagi.

* * * * *

Sudah dua tahun lamanya Nadya belajar di negeri impiannya itu. Hubungannya dengan Erik sudah lama usai, namun ia masih tetap berhubungan baik dengan mantan pacarnya itu. Begitu pula hubungannya dengan Dika. Dika mengirimnya email, menyampaikan permohonan maafnya dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi. Nadya ingin fokus pada perkuliahannya. Mencoba untuk mempertahankan prestasi akademisnya yang tergolong bagus di kampusnya.

Malam itu, Nadya sangat kelelahan setelah seharian ia menjalani aktivitasnya yang cukup padat di kampus. Ia selalu menyempatkan diri untuk membuka email. Siapa tahu ada email masuk dari Erik, Sarah, ataupun ibunya. Benar saja, ada sebuah email yang dia kenal. Dari Dika.

Hello Nad, How are you? I hope you're fine there. Masih inget gw kan? Hehe gw Dika, temen SMA yang selalu jailin lo dulu, sahabatnya Erik juga. Udah lama nih ga ngirim email ke lo. Lagi sibuk apa sekarang? Gw sama Erik lagi di kafe nih pas ngetik email ini. Kuliah kami lancar banget, dan baru aja beres UAS. Kami udah mulai libur nih, rencananya minggu depan kami mau berlibur ke tempat lo. Mau ya jadi tourguide? Kami rencana berlibur di sana selama seminggu. Siapin tempat yang asik dan recommended ya buat hang out.

Oke deh, nanti kalo semua berkasnya udah beres, gw hubungin lo lagi. Soalnya ini juga masih nunggu visa dari kedubes. Baik- baik di sana ya ya, Nad.

-Dika-

Nadya tersenyum senang dan bersiap untuk tidur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar