vintagehome

vintagehome

Jumat, 17 Februari 2012

AKU


Aku punya sebuah cerita. Mungkin hanya cerita lama, namun bisa membuat orang- orang mempunyai bermacam- macam reaksi untukku. Cerita yang cukup complicated, dan agak sulit untuk kumengerti sendiri. Sudah sekian lamanya kupendam cerita ini yang sudah lama berkecamuk dipikiranku. Entah hingga kapan perasaan was-was ini akan selalu muncul, yang kutahu, sulit sekali untuk memberi kepercayaan ada orang lain.

Aku punya masa lalu yang kurang menyenangkan. Aku adalah seorang minoritas selama 10 tahun ketika di bangku sekolah. Aku gadis berkacamata, berambut lurus, berwajah ‘standar’, tidak populer, tidak mempunyai kecerdasan yang mengagumkan, dan pendiam. Kalau dilihat- lihat, sama sekali tidak ada yang bisa dibanggakan dari fisik maupun kehidupanku. Orang- orang di sekitarku, ada atau tidaknya diriku, mereka terlihat tampak tak peduli. Seolah- olah aku bukanlah orang yang dianggap.

Setahun yang lalu, aku baru saja memenangkan kompetisi modeling di sebuah majalah remaja. Kehidupanku mulai berubah dan ibarat roda yang terus berputar, aku berasa di bagian roda yang paling atas. Orang- orang mulai memandang kehadiranku dan memperhitungkan adanya diriku. Sungguh, pertama kalinya dalam hidupku, aku tak diacuhkan oleh teman- teman sebayaku.

Dulu, aku mempunyai seorang sahabat yang kuakui berjasa dalam mengubah hidupku ini. Dialah yang membuat penampilanku berubah 180 derajat. Dia lepaskan kacamataku, dan mulai memakaikanku lensa kontak. Rambut yang selalu terkuncir rapi, ia uraikan dan disisirnya, bahkan terkadang ia gunakan penggulung rambut untuk menciptakan rambut sedikit keriting. Dipoleskannya alat- alat make-up pada wajahku. Olesan natural yang tidak terlalu membuatku tampak berdandan. Lip-gloss yang melembabkan bibir keringku, mascara yang membuat mataku sedikit lebih ‘hidup’.

Sedikit orang yang melirik perubahanku. Tapi aku merasa bahwa diriku menjadi lebih dianggap. Waktu itu aku hanya berpikir bahwa hanya dengan kecantikanlah aku dapat mengubah duniaku. Aku berharap bisa mendapatkan apapun yang kumau dari penampilanku yang semakin lama semakin berubah. Orang mulai berkata, aku manis. Saat aku mengikuti sebuah sanggar tari dan belajar berdandan dari sebuah majalah kecantikan, mereka mulai mengatakan aku cantik. Aku sungguh senang dipuji dan saat itu, aku bersyukur.

Suatu ketika, sahabatku menawariku untuk mengikuti ajang modeling di sebuah majalah. Aku dengan penuh keraguan dan ketidakyakinan terhadap diriku, mendaftarkan diri. Sahabatku tetap memberiku dorongan dan semangat. Dengan seluruh kemampuanku, aku mencoba menunjukkan bakatku di depan para juri. Daya tarik yang pertama kali kutonjolkan, tentu saja kecantikan dan penampilan. Setelah mengikuti beberapa rangkaian tes, aku dinyatakan lolos sebagai finalis. Meski aku bukan juara pertama, namun saat ini wajahku sudah menghiasi beberapa cover majalah dan menjadi bintang iklan sebuah kosmetik.

Hidupku sungguh berubah. Minoritas dalam diriku mulai berubah menjadi mayoritas. Saat aku berjalan, tampak semua orang mengenaliku, mereka berbisik, terdengar sayup- sayup kekaguman mereka akan diriku. Ya, aku dikagumi banyak orang sekarang. Jadwalku mulai padat. Aku yang sering bolos sekolah, aku yang mengalami kemerosotan dalam belajar, aku yang semakin hari semakin tergila- gila untuk mengejar uang untuk memenuhi pundi- pundiku. Aku mulai dekat dengan hal- hal yang dahulu sangat aku inginkan, dan mulai jauh dengan sesuatu yang dulunya dekat denganku. Sahabatku, aku tak lagi memiliki waktu untuk dihabiskan bersama. Sampai- sampai aku tak menyadari akan kepergiannya. Dia pindah keluar negeri mengikuti jejak orang tuanya. Aku terlalu sibuk untuk diriku sendiri. Aku tak pernah memiliki banyak waktu untuk berbicara dengannya, mungkin pikirnya, aku takkan memiliki waktu untuk mendengar pamitannya padaku untuk pergi. Aku terlalu egois untuk urusanku sendiri.

Aku yang disukai semua orang, aku yang dikejar- kejar oleh kaum lelaki, dan aku orang yang sekarang memiliki banyak orang dan dikagumi oleh mereka. Aku bisa melakukan apa yang aku inginkan, aku yang selalu menjadi pusat perhatian, mereka semua menyukaiku.

Saat kaum lelaki mendekati, itu hal yang sangat menyenangkan bagiku. Aku yang haus akan cinta, mulai mengenalnya perlahan- lahan. Bunga, cokelat, puisi, surat cinta, memenuhi lokerku setiap harinya. Lelaki yang dulunya sangat ku impikan untuk dapat berkenalan dengannya, sekarang pernah menjadi milikku. Ini seperti di film- film cinta dan aku bahagia. Mereka, para wanita cantik yang dahulu menghina dan meremehkanku, mulai memandangku sebagai seseorang yang penting. Penting untuk disingkirkan karena aku telah merebut kekasih- kekasih mereka. Aku puas membuat mereka merasa terbuang, seperti apa yang aku rasakan dahulu kala.

Bicara soal bahagia, sesungguhnya aku tidak merasakannya. Hatiku masih terasa hampa dengan semua pencapaianku selama ini. Saat semua orang menginginkan semua yang aku miliki, tahta, derajat, harta, dan segalanya, aku malah merasa ingin melepaskan semuanya. Aku hanya membutuhkan ‘isi’ di dalam rongga hati. Satu kata untuk itu semua, cinta.

2 komentar:

  1. tadi pas awal baca kirain ini beneran cerita tentang hidup lo zah..ternyata cerpen. cerita yang bagus. :) keep writing guys..:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. huaaaa febri! :D thanks sayang. I'm newbie nih, makasih ya! :)

      Hapus