vintagehome

vintagehome

Senin, 02 November 2009

Cita- cita Seorang Ayah yang tak bisa Diungkapkan

Sore itu, aku pulang ke rumah dengan keadaan yang sangat lelah. Sekolah hari ini terasa berat mungkin karena banyak tugas dan mulai banyak ulangan. Seperti biasa, aku melaksanakan shalat ashar kemudian menyalakan komputer untuk sekedar melihat situs jejaring sosial. Yap, biasa kita sebut dengan facebook. Aku melihat beberapa inbox dan notifikasi yang masuk. Wah ternyata temanku ada yang baru membuat note nih. Akupun menyempatkan untuk membacanya dan ini adalah sepenggal pengalaman menarik dalam hidupnya. Ini cerita tentang teman dekatku yang bernama Gaudi.

Gaudi adalah seorang remaja berusia 17 tahun yang saat ini menempati bangku kelas duabelas di salah satu SMA swasta di Bogor. Dia memang orang yang supel dan gampang bergaul dengan orang- orang yang baru dikenalnya. Mungkin karena dia orangnya bisa menempati dirinya dalam situasi apapun. Dia memang rada cuek soal keluarga dan tidak terlalu terbuka tentang masalah itu.

Suatu hari, diapun berfikir bahwa apakah masalah yang dialaminya juga dialami oleh orang lain saat berusia sama seperti dirinya? Dirinya adalah orang yang tidak begitu peduli dengan keluarganya, terutama pada sang ayah. Jarang sekali ia berbicara padanya, mungkin dalam sehari saja bisa dihitung dengan jari berapa kali ia berbicara pada ayahnya itu.

Setiap hari ketika dirinya berangkat ke sekolah, sering kali ayahnya masih tertidur. Ketika pulang sekolah, ayahnya pun masih bekerja di kantor dan pada saat dirinya bermain bersama teman- temannya dan pulang larut malam, ayahnya juga sudah tertidur di kamarnya. Untuk bertemu dengannya saja susah apalagi untuk mengobrol sekedar membicarakan sekolah atau masalah lainnya.

Sampai suatu saat, ketika Gaudi bermain ke kantor sang ayah, rekan sekerjanya bertanya kabar pada dirinya, “Ka, bagaimana sekolah kamu?”
“Males ah ngomongin sekolah. Gak ada yang seru.”
“Kok gitu ka?”
“Ya emang gitu.” Jawabnya singkat.
“Kasian tuh si ayah, dia udah modalin sekolah kamu, ngasih segala kebutuhan kamu, semua yang kamu mau dikasih kan? Tapi kamu malah kaya gini.” Dia mulai bercerita panjang lebar. Gaudi hanya terdiam. “Sebenernya kamu tau, apa cita- cita si ayah ke keluarga kamu terutama kamu?”
“Ayah pengen punya keluarga yang ceria, sering maen dan jalan- jalan bareng.” Gaudi menjawab seadanya.
“Nah itu kamu tahu. Coba deh kamu pikirin, apa pernah kamu ngobrol trus ketawa- ketawa sama si ayah?” Gaudi masih tetap diam. “Jarang kan kamu ngalamin yang seperti itu?”
“Ah, si ayah juga jarang banget ada di rumah. Ya kalaupun ada juga ga pernah nyapa.”
“Ayah kamu takut kalau kamu ngerasa keganggu sama kehadirannya.”
“Hahaha..” Gaudi hanya tertawa. Di dalam lubuk hatinya, dirinya sangat sedih baru menyadari akan hal itu.
“Sekarang kamu bisa ketawa sampai puas. Coba kamu bayangin deh gimana rasanya kalau ayah yang slama ini kamu cuekin, kamu biarin, kamu asingin, udah gak ada dan pergi jauh? Pikirin tuh sama kamu!”
Gaudi pun benar- benar tak bisa berkata apa- apa lagi. Dia memahami betul makna yang dikatakan oleh rekan kerja ayahnya itu. Dirinya hanya bisa menahan tangis. Perih batinnya membayangkan jika suatu hari sang ayah tak ada lagi di sisinya.
“Ada satu lagi cita- cita ayah kamu yang gak akan pernah kamu tahu.” Dia mulai berbicara lagi.
“Oh ya? Apa?” Tanya Gaudi.
“Cita- cita ayah kamu tuh sebenernya nggak susah kok. Dia cuma pengen bisa memeluk anak laki- lakinya yang selama ini dia banggain. Anak laki- lakinya yang dia didik dari kecil dan yang paling dia sayang.”
Gaudi mulai menangis.
“Ayah kamu nangis batinnya. Setiap hari ketemu sama kamu tapi gak pernah bisa buat memeluk kamu. Ketemu kamu setiap jamnya tapi gak bisa cerita tentang kehidupan sehari- hari kalian.”

Tanpa berpikir panjang, Gaudi langsung menghubungin ayahnya. Ia minta maaf atas segala kesalahan yang telah diperbuatnya dan ia juga meminta waktu untuk berbicara dengannya.

Kini, dia pun mulai belajar menghargai ayahnya dan membagi waktunya meski cuma sedikit. Karena dia tahu bahwa akan terasa menyakitkan jika ayah kita tidak lagi ada di sampingnya ketika dia membutuhkan, tidak lagi ada di belakangnya untuk memberi dukungan, dan tidak lagi ada di depannya untuk mempimpin keluarganya. Ayah selalu memberi apa yang dia butuhkan, selalu melakukan apapun demi anaknya, selalu melindunginya dari masalah apapun baik dia benar maupun salah, beliau selalu membelanya. Saat ini ia juga mulai belajar untuk lebih memahami perasaan ayahnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar